(Vibizmedia – Nasional) Sebagai produsen timah terbesar kedua dunia, dengan adanya bursa komoditas Indonesia Commodity dan Derivatives Exchange (ICDX), perlahan Indonesia mulai menjadi acuan harga timah global.
Indonesia menjadi produsen terbesar kedua dunia, dengan rata-rata produksi timah mencapai 90 ribu ton yang didominasi berasal dari Bangka Belitung. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Bachrul Chairi mengatakan bahwa saat ini harga timah masih lebih banyak didominasi negara lain.
Dengan menguasai pangsa pasar ekspor yang mencapai 70% dan 26% produksi timah dunia, harga timah masih ditentukan oleh negara lain yang tidak mempunyai barang, saat ini harga timah dunia didominasi oleh London Metal Exchange (LME) di London, Inggris, ungkap Bachrul, Kamis (18/8).
Yang menjadi keuntungan jika Indonesia dapat menentukan harga, sehingga penambang-penambang memiliki acuan. Penambang timah domestik yang bisa mengandalkan ICDX, pemerintah daerah (Pemda) juga bisa menghitung penerimaan daerah dari tambang timah di wilayahnya secara lebih pasti.
Sekalipun ICDX yang baru berdiri tahun 2013, sudah memperdagangkan timah atau almunium mencapai 18 ribu ton, pada tahun itu, dan mengalami peningkatan pada tahun 2014 mencapai 54 ribu ton dan kembali meningkat pada tahun 2015 mencapai 70 ribu ton dan dalam periode mulai dari Januari sampai dengan Juli 2016 sudah mencapai 32,6 ribu ton.
Ada sebanyak 63 perusahaan yang telah terdaftar di ICDX dengan 34 penjual dan 29 pembeli yang bertransaksi tawar menawar di bursa ICDX. Pada kesempatan lain, Direktur Utama ICDX Megain Widjaja mengatakan bahjwa sekalipun belum dominan dalam menentukan harga, keberadaan bursa komoditas timah membuat harga timah produksi dalam negeri tidak fluktuatif karena mengikuti patokan bursa global, ungkapnya.
Journalist : Rully
Editor : Mark Sinambela









