Pemerintah Kembangkan Industri Tenun dan Batik Menjadi Industri Padat Karya

0
1050
Ilustrasi: Kampung batik Semarang. FOTO : VIBIZMEDIA.COM/LILY DEWI

(Vibizmedia – Nasional) Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) saat ini sedang memacu kinerja industri pada karya berorientasi ekspor khususnya industri tenun dan batik.

Pada tahun 2016 lalu, kedua industri tersebut berhasil memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional dengan nilai ekspor mencapai USD 151,7 juta.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa saat ini, pihaknya sedang mendorong kinerja industri padat karya berorientasi ekspor karena mampu memberikan efek berganda bagi pemerataan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui penyerapan tenaga kerja, ungkapnya Rabu (5/4).

Airlangga sampaikan bahwa pihaknya telah menetapkan 10 industri padat karya dan berorientasi ekspor yang diprioritaskan pengembangannya pada tahun ini, salah satunya industri kreatif.

Selain industri kreatif, pemerintah juga mendorong industri lainnya seperti industri alas kaki, industri tekstil dan produk tekstil, industri makanan dan minuman, industri furnitur kayu dan rotan, industri elektronika dan telematika, industri barang jadi karet, industri farmasi, kosmetik dan obat tradisional, industri aneka, serta industri pengolahan ikan dan rumput laut.

Berdasarkan data Kemenperin, industri kreatif telah menyumbang sekitar Rp 642 triliun atau 7,05% terhadap total PDB Indonesia pada tahun 2015. Kontribusi terbesar berasal dari sektor kuliner sebanyak 34,2%, fesyen 27,9% dan kerajinan 14,88%. Selain itu, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja nasional, dengan kontribusinya mencapai 10,7% atau 11,8 juta orang.

Menperin optimistis terhadap potensi industri tenun dan batik nusantara karena didukung dengan kekayaan budaya Indonesia yang terus melahirkan berbagai jenis wastra dari masing-masing daerah dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Airlangga sampaikan bahwa Wastra Nusantara merupakan kain tradisional yang kental dengan nilai-nilai budaya. Motif-motif yang dibuat memiliki makna dan cerita yang diangkat dari sejarah dan adat-istiadat masyarakat setempat, ungkapnya

Disamping itu, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan bahwa, sampai dengan saat ini terdapat 369 sentra IKM tenun dan 101 sentra IKM batik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Beberapa tahun terakhir ini, wastra nusantara telah bermetamorfosis menjadi berbagai produk fesyen, kerajinan dan home decoration yang memiliki nilai tambah tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, IKM di Indonesia terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri yang cukup signifikan setiap tahun.

Hal ini terlihat dari capaian pada tahun 2016 sebesar Rp 520 triliun atau meningkat 18,3% dibandingkan pada 2015. Sementara itu, nilai tambah IKM di tahun 2014 tahun sekitar Rp 373 triliun menjadi Rp 439 triliun tahun 2015 atau naik 17,6%.

Peningkatan kemitraan antara IKM dengan industri tekstil dalam negeri, melalui upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan mutu produk melalui bimbingan teknis dan pendampingan tenaga ahli adalah upaya strategis untuk memacu produktivitas dan daya saing IKM Nasional.

Journalist : Rully
Editor      : Mark Sinambela

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here