(Vibizmedia-Nasional) Semua masyarakat turut senang dan lega karena belum pernah turun sebanyak hari kemarin dimana kasus positif baru setelah turun di 28.228 kasus Pada 26 Juli 2021 menjadi 45.203 kasus pada 27 Juli 2021. PPKM nampaknya membawa hasil. Kondisi Indonesia mencapai puncak lonjakan kasus positif baru terjadi pada 16 Juli 2021 yaitu mencapai 56.757 kasus positif baru dalam satu hari pada 16 Juli 2021, naik sebanyak 300% dari akhir tahun 2020.
Berbincang dengan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. yang adalah Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Vibiz Media mendapatkan banyak pencerahan pemikiran terkait pandemi yang tengah terjadi di tengah bangsa kita. dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. memang menyatakan bahwa pandemi ini bagai Tsunami yang mengagetkan, tidak ada yang dapat memprediksi kapan peningkatan akan terjadi.
Lalu Bagaimanakah Antisipasi Pemerintah?
Saat ini pemerintah berfokus pada upaya menurunkan kasus positif baru. Banyak hal telah diantisipasi pemerintah sebenarnya terkait penyediaan supply oksigen, penambahan RS Darurat serta pemaksimalan kapasitas rumah sakit yang ada dengan tenda darurat, pembukaan tempat-tempat isolasi darurat, menggencarkan vaksinasi, dan lain sebagainya.
Sebagai contoh misalnya antisipasi supply oksigen. Tahukah Anda bahwa Sudah diantipasi untuk peningkatan terjadi dua kali. Misalnya: oksigen kebutuhan nasional oksigen kita adalah sekitar 400 ton sehari sedangkan kapasitas produksi adalah 1500 ton sehari. Tentunya hal ini diprediksi cukup bila ada peningkatan. Namun, siapa yang menduga bahwa kebutuhan oksigen mencapai puncaknya yaitu menjadi 2500 ton sehari. Sehingga walaupun sudah diantisipasi namun tetap terjadi ledakan.
Apa yang Menjadi Fokus Pemerintah Menghadapi Kondisi ini?
- Meningkatkan testing dengan mengedukasi masyarakat agar secepatnya memeriksakan diri bila terpapar, sehingga dapat diketahui dan diberikan obat lebih dini, sebelum menjadi semakin parah. Semakin dini diintervensi, risiko semakin parah akan semakin rendah. Sebagai contoh pada 16 Juli kemarin yang melakukan tes ada sekitar 180.000 orang dan hasilnya kasus positif baru menjadi 56.757 kasus
- Memutuskan rantai penularan, memisahkan yang sakit dari sehat begitu ketahuan positif. Yang OTG dan gejala ringan dapat langsung melakukan isolasi mandiri. Hal ini membantu merelaksasi beban fasilitas kesehatan. Hal yang terbaik adalah ketika mengetahui bahwa ia positif terpapar virus, maka dapat isolasi lebih dini, dan jika memerlukan pelayanan maka dapat pergi ke faskes terdekat. Jika mereka menjalani isoman, maka memutuskan rantai penularan dari sumber penularan. Langsung pakai masker dan tidak berhubungan dengan anggota keluarga yang lain maupun ke kolega atau teman kerja.
- Terhindar dari terbentuknya Cluster keluarga. Mulai dari yang paling tua hingga yang paling muda dalam satu keluarga dapat terhindar.
Tetap Menjaga Prokes Ketat
Varian Delta dijelaskan oleh dr. Siti Nadia, M.Epid memiliki ciri sebagai berikut:
- Sangat menular
Varian Delta memang lebih cepat menular dari penderita ke orang lain. Angka reproductive number varian Delta yang artinya adalah seberapa cepat laju penularan di masyarakat, menunjukkan angka yang sangat tinggi, yaitu 5–8, sedangkan varian lama memiliki reproductive number 2.5–3. Delta varian hanya membutuhkan 15 detik berpapasan tanpa masker dan sudah dapat terjadi penularan dari yang sakit ke yang sehat. Kecepatannya jauh lebih cepat dari varian lama yang membutuhkan waktu paparan 15 menit berhadapan tanpa masker dengan sumber penularan.
- Tidak pandang bulu
Kalau varian yang lama tidak banyak kasus positif pada anak, namun sekarang banyak anak terpapar dengan COVID-19.
Itu sebabnya satu-satunya cara yang paling efektif bahkan melebihi program vaksinasi sekalipun adalah mari kita berupaya untuk menjaga prokes dengan baik, menjaga untuk diri sendiri tidak tertular dan tentunya tidak takut menghadapi situasi ini, sebab rasa takut hanyalah menurunkan imunitas saja.









