
(Vibizmedia – Bekasi) Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta bukanlah kutukan, melainkan penyakit yang dapat disembuhkan sepenuhnya jika terdeteksi dan ditangani sejak dini. Pesan ini ia sampaikan saat kunjungan penguatan program eliminasi kusta di Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (23/7/2025).
Menurut Budi, obat kusta tersedia secara gratis dan pengobatannya relatif singkat, yakni enam bulan. Namun, stigma sosial membuat banyak penderita enggan melapor dan mencari pengobatan, sehingga penyakit terlambat ditemukan, menular, bahkan memicu disabilitas.
“Kusta itu bisa sembuh. Tapi karena stigma, orang takut lapor. Takut diejek, dianggap kena kutukan. Padahal, kalau diobati, aman dan tidak menular,” ujarnya, Kamis (24/7/2025).
Ia menambahkan, penularan kusta membutuhkan kontak erat dalam waktu lama. Begitu ditemukan satu kasus, keluarga terdekat diberikan obat pencegahan sekali minum untuk memutus rantai penularan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang turut hadir menilai stigma sebagai hambatan utama penanganan kusta. Ia juga menyoroti kaitan penyakit ini dengan faktor sosial ekonomi. “Kusta sering menimpa orang miskin. Jadi selain obat, bantuan pangan juga penting,” ujarnya. Ia bersama Bupati Bekasi berencana memberi bantuan Rp1 juta per bulan untuk keluarga penderita, serta insentif Rp10 juta bagi tenaga kesehatan yang mendampingi pasien hingga sembuh.
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang menegaskan komitmen menjadikan kesehatan sebagai prioritas pembangunan desa, termasuk perbaikan sanitasi dan rumah sehat bagi pasien kusta. “Kalau rumah penderita tak layak, kita bantu rehab,” ujarnya.
Hingga Juni 2025, Kabupaten Bekasi mencatat 121 kasus baru kusta dengan Case Detection Rate (CDR) 3,34. Mayoritas adalah tipe Multibasiler (MB) atau kusta basah, termasuk enam kasus pada anak-anak yang mengindikasikan penularan aktif di rumah tangga.
Kepala Dinas Kesehatan Bekasi Alamsyah menilai kunjungan Menkes dan Gubernur sebagai momentum untuk mengubah persepsi publik serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Program eliminasi kusta di Bekasi kini melibatkan Puskesmas, rumah sakit, klinik swasta, kader desa, serta dukungan organisasi internasional seperti No Leprosy Relief (NLR).








