(Vibizmedia – Badung, Bali) Sekretariat Komite Kebijakan Pembiayaan UMKM melakukan in-depth interview untuk mengevaluasi efektivitas Kredit Usaha Alat dan Mesin Pertanian (Kredit Alsintan) di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (7/8).
Asisten Deputi Bidang Pengelolaan BUMN Jasa Keuangan dan Usaha Bisnis, Gunawan Pribadi, menyampaikan bahwa Bali menjadi provinsi pertama yang menyalurkan Kredit Alsintan melalui BPD Bali. “Harapannya, pembiayaan ini dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan mewujudkan swasembada pangan di Bali,” ujarnya.
Salah satu penerima, Dewa Ayu Sari Wulandari, pemilik usaha PB Buana Sari yang bergerak di penggilingan padi dan penyosohan beras, menuturkan manfaat nyata Kredit Alsintan. Pada 2024, ia memperoleh pembiayaan Rp2 miliar dengan tenor lima tahun untuk membeli Rice Milling Unit (RMU) senilai Rp2,2 miliar. Mesin tersebut berhasil menggandakan kapasitas produksi dari 3 ton menjadi 6 ton per hari, sekaligus menekan biaya listrik, waktu, dan tenaga kerja. Hasil beras pun meningkat menjadi kualitas premium.
Usaha ini dikelola bersama sang suami, I Gede Putu Astina, dengan omzet rata-rata Rp491 juta per bulan. Meski kapasitas produksi meningkat, I Gede menekankan pentingnya menjaga ketersediaan gabah sepanjang tahun. “Tantangannya kini memastikan pasokan tetap ada agar mesin bisa optimal. Kami juga berharap ada skema pembiayaan tambahan untuk modal kerja,” ujarnya.
Pelaksanaan Kredit Alsintan diatur dalam Permenko Perekonomian Nomor 6 Tahun 2025, yang menargetkan percepatan realisasi pembiayaan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan daya saing petani.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian KUR The Next: Adaptive and Integrative, forum evaluasi dan perencanaan program pembiayaan pemerintah agar lebih mudah diakses dan sesuai kebutuhan pelaku usaha. Turut hadir perwakilan dari BPD Bali, PT Jamkrindo, dan PT Askrindo, serta didukung oleh berbagai lembaga keuangan nasional.









