Transformasi Digital Kepabeanan, Bea Cukai Hadirkan X-Ray Kontainer dan Trade AI

0
368

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) meresmikan penggunaan alat pemindai peti kemas (X-Ray) yang dilengkapi fitur radiation portal monitor (RPM) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Bea Cukai juga memperkenalkan dua inovasi digital yang tengah dikembangkan, yakni Self Service Report Mobile (SSR-Mobile) dan Trade AI, sebagai bagian dari penguatan transformasi digital di sektor kepabeanan.

Pemanfaatan teknologi pemindai kontainer dan kecerdasan artifisial dinilai menjadi langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan transparansi, keamanan arus barang, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional. Transformasi digital juga menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik terhadap layanan kepabeanan.

“Kita harus menjaga kepercayaan publik dan daya saing ekonomi. Selain itu, penyelundupan harus dilawan dengan pendekatan yang lebih modern,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

 Pemindai Peti Kemas Berteknologi RPM

Alat pemindai X-Ray terbaru ini dilengkapi *radiation portal monitor* yang mampu mendeteksi bahan nuklir dan zat radioaktif di dalam kontainer. Pemeriksaan dapat dilakukan secara cepat dan akurat tanpa perlu membuka fisik peti kemas.

Inovasi ini tidak hanya memperkuat aspek keamanan nasional, tetapi juga mempercepat proses layanan dan meningkatkan efektivitas pengawasan impor-ekspor. Pemberlakuan teknologi tersebut diharapkan mampu mencegah berbagai pelanggaran kepabeanan yang berpotensi merugikan perekonomian negara.

SSR-Mobile, Pelaporan Mandiri Berbasis Aplikasi

Selain pemindai peti kemas, Bea Cukai juga mengenalkan SSR-Mobile, fitur pelaporan mandiri berbasis aplikasi CEISA 4.0 Mobile. Aplikasi ini dilengkapi teknologi geotagging, pencatatan real-time, serta dukungan AI untuk memantau aktivitas pemasukan dan pengeluaran barang di kawasan fasilitas kepabeanan seperti TPB, KITE, FTZ, dan KEK.

Melalui SSR-Mobile, perusahaan dapat melakukan proses gate in, stuffing, pembongkaran, hingga gate out secara mandiri, sementara sistem AI secara otomatis melakukan analisis risiko.

“Dengan transformasi ini, birokrasi bisa dipangkas, kepatuhan meningkat, dan celah kecurangan semakin tertutup,” kata Purbaya.

 Trade AI untuk Pengawasan Impor

Bea Cukai juga tengah mengembangkan Trade AI, sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan akurasi analisis impor. Teknologi ini berfungsi mendeteksi dini praktik under-invoicing, over-invoicing, serta potensi pencucian uang berbasis perdagangan.

Trade AI dilengkapi kemampuan analisis nilai pabean, klasifikasi barang, dan verifikasi dokumen, yang nantinya akan terintegrasi penuh dengan sistem CEISA 4.0 guna memperkuat koordinasi dan pengambilan keputusan pengawasan.

“Sistem ini akan membuat pengawasan semakin tajam dan proses pengambilan keputusan lebih cepat,” tegas Purbaya.

Menuju Kepabeanan Modern

Purbaya menegaskan, penerapan pemindai peti kemas, SSR-Mobile, dan Trade AI menjadi tonggak penting peningkatan kualitas pengawasan kepabeanan yang lebih adaptif dan berbasis data. Inovasi ini juga mempersiapkan Bea Cukai menghadapi modus kejahatan perdagangan internasional yang semakin kompleks.

“Di saat yang sama, layanan kepada masyarakat dan dunia usaha harus semakin cepat, sederhana, dan berintegritas. Itulah mandat yang harus kita jalankan,” pungkasnya.

Langkah ini menandai babak baru transformasi digital Bea Cukai sebagai komitmen pemerintah menghadirkan layanan kepabeanan yang modern, efisien, dan responsif terhadap tantangan global.