Di Tengah Tantangan Global, Ekonomi Indonesia Tumbuh Solid dan Stabil pada 2025

0
379
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Jakarta) Di tengah ketidakpastian perekonomian global, Indonesia sepanjang 2025 tetap mampu menunjukkan ketahanan dan kinerja ekonomi yang solid. Pemerintah terus menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

“Sepanjang 2025, Pemerintah secara konsisten menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui penguatan koordinasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga. Langkah ini membuat perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid meski menghadapi tantangan global,” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2025 terjaga di kisaran 5 persen, dengan capaian 5,04 persen (yoy) pada Triwulan III-2025. Dari sisi skala ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia pada 2024 mencapai USD1.396,30 miliar, sementara PDB berdasarkan paritas daya beli (PPP) tercatat sebesar USD4,10 triliun. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar kedelapan di dunia. PDB per kapita juga terus meningkat hingga mencapai Rp78,62 juta atau setara USD4.960,33.

Stabilitas makroekonomi tetap terjaga, tercermin dari inflasi yang berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen dan tercatat sebesar 2,72 persen (yoy) pada November 2025. Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat hingga mencapai level 8.644,26 pada 29 Desember 2025. Nilai tukar rupiah pun relatif stabil di kisaran Rp16.785 per dolar AS pada Desember 2025.

Indikator Ekonomi Makro

Cadangan devisa Indonesia tetap tinggi dan mencapai USD150,1 miliar pada November 2025. Kinerja sektor riil juga menunjukkan penguatan berkelanjutan, tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia yang konsisten berada pada fase ekspansi dengan capaian 53,3 pada November 2025. Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional tetap terjaga, sebagaimana tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang berada di level 124,0 serta Indeks Penjualan Riil yang diperkirakan tumbuh 5,9 persen (yoy) pada November 2025.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan nilai surplus mencapai USD35,88 miliar pada periode Januari–Oktober 2025. Di bidang investasi, realisasi investasi sepanjang Januari–September 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun atau tumbuh 13,7 persen (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit perbankan tetap tumbuh positif sebesar 7,36 persen (yoy) pada Oktober 2025, mencerminkan dukungan berkelanjutan sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi.

Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

Dari sisi kualitas pertumbuhan, indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan perbaikan yang nyata. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja meningkat menjadi 70,59 persen pada Agustus 2025. Penciptaan lapangan kerja terus didorong melalui penguatan sektor riil serta berbagai program pembiayaan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, KIPK, Kredit Perumahan, Program Padat Karya Tunai, serta program magang bagi lulusan perguruan tinggi.

Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka menurun menjadi 4,85 persen. Tingkat kemiskinan nasional juga menurun menjadi 8,47 persen pada Maret 2025, sementara kemiskinan ekstrem turun hingga 0,85 persen pada periode yang sama. Rasio gini menunjukkan tren penurunan ke level 0,375, mencerminkan perbaikan pemerataan pendapatan.

Program Stimulus dan Paket Kebijakan

Sebagai respons terhadap dinamika ekonomi, Pemerintah terus mengoordinasikan berbagai stimulus dan paket kebijakan ekonomi, antara lain Bantuan Pangan, tambahan Bantuan Kartu Sembako, Bantuan Subsidi Upah, serta BLTS Kesra. Pemerintah juga mendorong mobilitas dan aktivitas ekonomi melalui diskon transportasi, dukungan bagi industri padat karya, insentif fiskal bagi pekerja dan UMKM, serta percepatan deregulasi dan debottlenecking melalui penyederhanaan regulasi dan integrasi perizinan lintas kementerian dan lembaga ke dalam sistem OSS.

“Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan perekonomian nasional, menjaga sinergi lintas sektor, serta memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inklusif, dan berdaya saing, agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Haryo.