Kemenperin Perkuat Daya Saing Sentra IKM Alas Kaki Hadapi Dinamika Pasar Global

0
81
Industri alas kaki
Industri alas kaki. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM), termasuk sentra industri alas kaki yang menghadapi tantangan dinamika ekonomi global dan perubahan perilaku pasar. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), Kemenperin menggulirkan berbagai kebijakan, program fasilitasi, serta pelatihan dan pendampingan guna meningkatkan kapasitas usaha sentra-sentra IKM agar mampu bersaing di pasar domestik maupun global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa secara umum sentra IKM masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta minimnya inovasi produk. Selain itu, sentra IKM juga harus beradaptasi dengan perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor.

“Tantangan yang sering dihadapi sentra IKM antara lain keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta kurangnya inovasi produk. Di sisi lain, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor,” ungkap Agus Gumiwang dalam keterangannya, Senin, 5 Januari 2026.

Salah satu contoh sentra IKM yang tengah beradaptasi dengan perubahan pasar adalah sentra IKM alas kaki di Ciomas, Kabupaten Bogor. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita, yang mengunjungi sentra tersebut pada September 2025, mengungkapkan bahwa perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19 turut memengaruhi kinerja usaha para perajin.

Selain itu, isu regenerasi perajin juga menjadi perhatian. Menurut Reni, mayoritas perajin alas kaki di Ciomas berasal dari generasi senior yang belum sepenuhnya menguasai pengetahuan dan keterampilan baru. Oleh karena itu, diperlukan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi.

Padahal, industri alas kaki memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin mencatat industri alas kaki bersama industri kulit tumbuh sebesar 8,31 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan II 2025, serta tumbuh 0,72 persen secara kuartalan (quarter to quarter) pada triwulan III 2025. Nilai investasi industri alas kaki juga tercatat lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari hingga September 2025.

“Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 11,89 persen pada periode Januari hingga Agustus 2025, serta menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki,” ungkap Reni.

Sebagai langkah konkret penguatan sentra IKM, Ditjen IKMA berkolaborasi dengan Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui serangkaian program peningkatan daya saing bagi perajin sentra IKM alas kaki Ciomas.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menjelaskan bahwa sepanjang akhir 2025 telah dilaksanakan tiga kegiatan pembinaan utama, yakni peningkatan literasi digital, bimbingan teknis, serta pendampingan oleh mentor dari perguruan tinggi. Program ini diikuti oleh 14 perajin perwakilan sentra IKM alas kaki Ciomas.

“Pembinaan ini bertujuan agar perajin semakin familiar dengan pemasaran digital, memahami desain dan pola alas kaki terkini untuk mendorong inovasi produk, serta mampu mengelola usaha secara lebih efisien melalui pendampingan mentor,” kata Budi.

Rangkaian pembinaan diawali dengan kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan di Jawa Barat pada 12 Desember 2025, yang diikuti oleh 14 perajin alas kaki Ciomas dan 56 IKM lainnya dari Kota dan Kabupaten Bogor. Materi yang diberikan meliputi strategi pemasaran digital, penjualan di lokapasar, serta praktik fotografi produk dengan narasumber dari Universitas Prasetiya Mulya, Shopee Indonesia, dan Universitas Ciputra Jakarta.

Selanjutnya, para perajin mengikuti bimbingan teknis desain dan pola alas kaki pada 15–17 Desember 2025 dengan narasumber dari BPIPI. Program ini dilanjutkan dengan pendampingan oleh mentor dari Universitas Prasetiya Mulya hingga tahun 2026 bagi peserta terpilih.

“Kami berharap hasil pembinaan ini dapat menjadi modal dasar bagi para perajin untuk memperkuat kondisi internal usaha, memahami kebutuhan bisnis secara lebih tepat, serta menentukan langkah strategis dalam mengembangkan usaha dan menghadapi dinamika pasar,” ujar Budi.

Ke depan, Kemenperin mendorong para perajin sentra IKM alas kaki untuk memanfaatkan berbagai fasilitas pemerintah, antara lain pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Industri Padat Karya (KIPK), layanan konsultasi teknis BPIPI, serta program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan bagi IKM guna meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.