Permintaan Global Meningkat, Kemenperin Optimalkan Industri Bambu Nasional

0
105
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan ekosistem industri bambu nasional secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Upaya ini dinilai strategis untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing industri, sekaligus mendukung pelestarian lingkungan melalui penerapan prinsip ekonomi hijau dan sirkular.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan bambu terbesar di dunia, dengan lebih dari 125 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Potensi tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan sumber bahan baku bambu terbesar secara global.

Namun demikian, Agus menuturkan bahwa pemanfaatan bambu di dalam negeri masih didominasi cara-cara konvensional sehingga belum mampu menghasilkan nilai tambah yang optimal. Oleh karena itu, Kemenperin mendorong penguatan industri hilir bambu, khususnya untuk kebutuhan konstruksi, furnitur, serta pengembangan produk bernilai tambah lainnya, termasuk pangan fungsional.

“Bambu memiliki potensi besar sebagai bahan baku alternatif pengganti kayu karena memiliki kekuatan mekanis yang baik, lentur, dan mudah dibentuk. Bahkan, bambu sangat direkomendasikan untuk bangunan di wilayah rawan gempa karena lebih tahan terhadap guncangan dibandingkan material konvensional,” ujarnya.

Pengembangan bambu sendiri telah menjadi program lintas kementerian sejak diterbitkannya Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Bambu Terintegrasi Hulu–Hilir pada 2022. Sebagai tindak lanjut, Kemenperin saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan ekosistem industri bambu terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Peta jalan tersebut mencakup penguatan agroforestry bambu, penerapan teknologi pascapanen, pembentukan sentra-sentra industri bambu, pendirian Akademi Komunitas Bambu, hingga pembangunan pusat logistik bambu untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengungkapkan bahwa industri bambu nasional memiliki peluang besar di berbagai sektor, mulai dari kerajinan, furnitur, konstruksi, hingga bioindustri. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah.

“Saat ini, permintaan ekspor lantai kontainer berbahan bambu mencapai sekitar 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru berkisar 30 meter kubik per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan peluang ekspansi industri bambu yang sangat besar,” tegas Putu.

Di pasar domestik, permintaan produk bambu juga terus meningkat, khususnya untuk pembangunan kawasan pariwisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Bahkan, bangunan berbasis bambu memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga mencapai Rp12 juta per meter persegi.

Selain itu, investasi pada konstruksi bambu dinilai lebih efisien. Break Even Point (BEP) bangunan bambu diperkirakan hanya sekitar tiga tahun, jauh lebih cepat dibandingkan konstruksi beton yang membutuhkan waktu enam hingga tujuh tahun.

Untuk mengatasi tantangan keterbatasan sumber daya manusia dan kualitas bahan baku, Kemenperin menginisiasi pembentukan Akademi Komunitas Bambu (AKB) sebagai program pelatihan berbasis kompetensi. Program ini difokuskan pada penguatan pengolahan bambu di sisi hulu serta teknologi pascapanen agar bambu siap digunakan oleh industri.

AKB telah mulai diimplementasikan pada 2025 di Bali dengan komposisi pembelajaran 70 persen praktik dan 30 persen teori, serta diarahkan untuk menghasilkan SDM bambu yang tersertifikasi kompetensi. Silabus AKB selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bambu.

Kemenperin juga menilai ekosistem industri bambu yang telah terbentuk di Bangli berpotensi dikembangkan sebagai pusat logistik bambu nasional. Potensi tersebut didukung oleh ketersediaan bahan baku, mesin pengolahan, serta keberadaan sentra IKM dan industri bambu. Pengembangan serupa juga telah dipetakan di Yogyakarta yang memiliki ekosistem kolaborasi antara riset, komunitas, dan industri bambu.

Melalui penguatan SDM, standardisasi, dan pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi, Kemenperin optimistis industri bambu nasional dapat tumbuh berkelanjutan, berdaya saing global, serta berkontribusi terhadap pembangunan berwawasan lingkungan dan ketahanan pangan nasional.