Panen Raya Karawang, Presiden Prabowo Tekankan Teknologi dan Hilirisasi Pertanian

0
91
Panen Raya
Presiden Prabowo Subianto melakukan peninjauan berbagai inovasi hilirisasi dan teknologi pertanian modern dalam rangkaian kegiatan Panen Raya di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu, 7 Januari 2026. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meninjau berbagai inovasi hilirisasi dan teknologi pertanian modern dalam rangkaian kegiatan Panen Raya di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo menyaksikan langsung pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) otonom, seperti traktor dan rice transplanter, yang digunakan untuk pengolahan lahan secara lebih efisien. Kepala Negara juga melihat demonstrasi penggunaan drone pertanian untuk pemantauan tanaman serta pemanfaatan pompa air otomatis guna mendukung efisiensi sistem irigasi.

Selain peninjauan teknologi di lapangan, Presiden Prabowo turut mengunjungi Pameran Hilirisasi Pertanian yang menampilkan beragam inovasi pengolahan hasil pertanian dan perkebunan. Pada kesempatan tersebut, Presiden juga mencicipi sejumlah produk hasil hilirisasi yang dipamerkan.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pengembangan produk gambir. Muhammad Makky dari Universitas Andalas menjelaskan bahwa gambir merupakan tanaman endemik Indonesia dengan potensi strategis yang sangat besar di pasar global.

“Gambir merupakan satu-satunya tanaman yang dapat tumbuh di Indonesia dan tidak dapat ditumbuhkan di negara lainnya. Jadi itu merupakan suatu tanaman endemik dan keunggulan karena tidak ada pesaing dari negara lain,” ujarnya dalam keterangan terpisah.

Ia menjelaskan, gambir diolah dari daun yang direbus dan diperas hingga menghasilkan getah berbentuk pasta yang kemudian mengeras menjadi bongkahan. Di dalam bongkahan tersebut terkandung dua komponen aktif utama, yakni tanin dan katekin, yang memiliki nilai tinggi dan banyak dibutuhkan industri dunia.

Namun demikian, Makky menilai bahwa selama ini Indonesia masih mengekspor gambir dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah ekonominya lebih banyak dinikmati oleh negara lain. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat mendorong pengembangan industri hilirisasi gambir di dalam negeri.

“Harapannya tentu Bapak Presiden dan melalui pembantu Presiden, Menteri, dan struktur lainnya memberikan kesempatan dibukanya industri hilirisasi gambir, khususnya di sentra produksi yaitu di Sumatra Barat dan juga Sumatra Utara,” ucapnya.

Peninjauan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berorientasi pada nilai tambah melalui hilirisasi.