Kemenhut Optimalkan Kayu Hanyutan Dukung Hunian Sementara Korban Banjir Aceh dan Sumut

0
87
Kayu hanyutan pascabencana banjir sumatra (Foto: Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut)

(Vibizmedia – Nasional) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Sumatra Utara sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak banjir.

Di Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 85 personel Kemenhut bersama 10 personel Saka Wanabakti melanjutkan kegiatan pembersihan fasilitas umum dan penanganan kayu hanyutan di Kecamatan Langkahan. Kegiatan difokuskan pada pemilahan kayu yang masih layak guna agar dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Kemenhut, Subhan, menjelaskan bahwa pemilahan kayu dilakukan langsung di lokasi terdampak untuk mempercepat proses pemanfaatan, khususnya bagi pembangunan hunian sementara warga.

“Kayu hanyutan dipilah di halaman rumah warga dan di sungai mati agar dapat segera dimanfaatkan, terutama untuk mendukung pembangunan hunian sementara,” ujar Subhan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Kemenhut mengerahkan 37 unit alat berat, terdiri atas 30 unit milik Kemenhut, enam unit bantuan TNI, serta dukungan alat berat dan dump truck dari Kementerian PUPR. Proses pengukuran kayu dilakukan oleh Tim BPHL bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh. Hingga 7 Januari 2026, tercatat sebanyak 652 batang kayu dengan volume 1.101,34 meter kubik.

Pemanfaatan kayu hanyutan juga melibatkan lembaga kemanusiaan. Rumah Zakat memanfaatkan sekitar 7,15 meter kubik kayu dengan dukungan gergaji mesin dan sawmill berjalan untuk membantu kebutuhan warga. Secara keseluruhan, sejak 29 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, pemanfaatan kayu diperkirakan mencapai 32,5 meter kubik. Saat ini, tiga unit hunian sementara masih dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai dibangun.

Selain penanganan kayu hanyutan, tim Kemenhut dan Saka Wanabakti juga melakukan pembersihan fasilitas pendidikan, termasuk membersihkan lima ruangan di SMPN 3 Langkahan yang terdampak banjir.

Sementara itu, di Aceh Tamiang, tim Kemenhut melakukan pengawasan terhadap tumpukan kayu yang telah diukur, membersihkan sarana dapur umum bagi korban banjir, serta melaksanakan kegiatan bersih lingkungan di rumah-rumah warga terdampak.

Di Sumatra Utara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara terukur dan diawasi ketat untuk memastikan sesuai peruntukannya.

“Kayu hanyutan diarahkan untuk mendukung kebutuhan pemulihan warga, termasuk sebagai bahan pembangunan hunian sementara,” ujar Novita.

Kegiatan pembersihan kayu hanyutan di Sumatra Utara melibatkan tujuh unit alat berat Kemenhut. Tim gabungan UPT Kemenhut juga melakukan penghitungan kayu olahan di Desa Garoga. Hingga 7 Januari 2026, tercatat 135 keping kayu olahan dengan volume 1,8936 meter kubik. Secara kumulatif, jumlah kayu olahan mencapai 565 keping dengan total volume 8,8475 meter kubik.

Selain pemanfaatan kayu hanyutan, Kemenhut terus melakukan pembersihan fasilitas umum dan penataan lingkungan sebagai bagian dari percepatan pemulihan wilayah terdampak banjir di Aceh dan Sumatra Utara.