PLTA Sipansihaporas Jadi Benteng Banjir, Selamatkan Warga Tapanuli Tengah

0
385

(Vibizmedia – Nasional) Hujan lebat yang mengguyur tanpa henti selama beberapa hari menyebabkan debit Sungai Sipansihaporas meningkat tajam. Sejak dini hari, warga di sejumlah desa di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, mulai meningkatkan kewaspadaan dengan memantau aliran sungai yang membawa ranting hingga kayu berukuran besar dari arah hulu.

Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada November lalu kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko cuaca ekstrem, sekaligus menegaskan pentingnya keberadaan infrastruktur strategis yang mampu melindungi masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, PLTA Sipansihaporas tidak hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, tetapi juga memainkan peran penting dalam pengendalian risiko banjir serta perlindungan wilayah di sekitarnya.

Erwin Tambunan, warga Desa Sihaporas, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, merasakan langsung momen mencekam saat bencana itu terjadi. Di kawasan hilir Sungai Sipansihaporas, ia masih mengingat jelas bagaimana permukaan air sungai terus meninggi sejak pagi hari.

Derasnya hujan yang tak kunjung reda berpadu dengan kuatnya arus sungai membuat Erwin dan warga lainnya diliputi rasa cemas.

“Hujan terus kurang lebih satu minggu. Tiba-tiba terjadi banjir bandang pada tanggal 25 November. Saat saya melihat ke sungai dan ke kampung, aliran air sangat deras,” ujarnya dengan suara bergetar.

Kekhawatiran warga semakin memuncak ketika kayu-kayu besar berupa gelondongan ikut terbawa arus, mengancam rumah dan lahan pertanian yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Kayunya banyak, kayu gelondongan. Warga pun langsung mengungsi semua,” tutur Erwin.

Namun, di tengah situasi genting tersebut, PLTA Sipansihaporas menjadi penahan pertama yang kokoh saat banjir mencapai puncaknya. Bendungan yang merupakan bagian dari sistem PLTA bekerja menahan lonjakan debit air dari wilayah hulu.

Kayu gelondongan, potongan batang pohon, serta sedimen yang terbawa arus deras tertahan dan menumpuk di area bendungan, sehingga tidak langsung mengalir ke permukiman warga di hilir. Pada hari yang penuh ketegangan itu, bendungan berfungsi layaknya benteng alami yang memperlambat laju air dan meredam potensi kerusakan yang lebih besar.

Berkat peran tersebut, sedikitnya tiga desa di wilayah hilir terhindar dari ancaman banjir yang lebih parah.

“Kalau saya lihat di atas, kayu-kayu menumpuk seperti gunung. Kalau semua itu sempat turun ke bawah, saya rasa banyak rumah warga yang hancur. Tapi dengan adanya PLTA, kami selamat. Kami merasa lebih aman. Kalau tidak ada itu, habis semua rumah warga di Sihaporas,” kata Erwin.

Pengalaman Erwin menjadi gambaran nyata bagaimana infrastruktur ketenagalistrikan dapat memberi manfaat langsung bagi keselamatan masyarakat. Peran bendungan PLTA Sipansihaporas dalam menahan material banjir sejalan dengan pendekatan PLN dalam membangun dan mengelola infrastruktur yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga perlindungan sosial dan lingkungan, khususnya di wilayah rawan bencana.

Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menegaskan bahwa kehadiran PLTA Sipansihaporas merupakan bagian dari upaya PLN menghadirkan infrastruktur yang adaptif terhadap risiko alam, sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

“Bendungan PLTA Sipansihaporas memiliki peran dalam menahan material banjir dari wilayah hulu sehingga dampak yang dirasakan masyarakat di hilir dapat diminimalkan. Pada saat yang sama, PLN terus menjaga keandalan sistem kelistrikan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan meski menghadapi kondisi alam yang ekstrem,” ujar Rizal.

PLTA Sipansihaporas berlokasi di Desa Husor, Desa Sibuluan, dan Desa Sihaporas, Kabupaten Tapanuli Tengah. Mengandalkan potensi aliran air dari kawasan pegunungan, pembangkit ini menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan Sumatra Utara sekaligus bagian dari bauran energi terbarukan nasional.

Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menjelaskan bahwa secara teknis PLTA Sipansihaporas dirancang untuk mengendalikan aliran air saat curah hujan tinggi. Sistem bendungan dan saluran air berfungsi menahan sedimen serta material padat, termasuk kayu gelondongan yang terbawa banjir, sehingga tekanan aliran ke wilayah hilir dapat dikendalikan.

“PLTA Sipansihaporas memanfaatkan aliran air dari tiga sungai, yaitu Sungai Aer Paramaan, Sungai Aek Natolbak, dan Sungai Aek Bargot. Saat banjir terjadi, sistem bendungan dan saluran air berfungsi menahan kayu gelondongan dan sedimen agar aliran ke wilayah hilir tetap terkendali,” jelas Ruly.

Selain berperan dalam mitigasi bencana, PLTA berkapasitas total 50 megawatt (MW) ini telah menyuplai listrik berbasis energi hijau bagi masyarakat Tapanuli Tengah dan sekitarnya selama lebih dari dua dekade. Keberadaannya menjadi bagian dari komitmen PLN dalam mendukung transisi energi bersih nasional.

Ruly menambahkan, pascabencana, seluruh unit PLTA Sipansihaporas kembali beroperasi penuh pada Rabu, 2 Desember 2025. Kembalinya operasional pembangkit ini membawa kelegaan bagi masyarakat, seiring stabilnya kembali pasokan listrik untuk rumah tangga, fasilitas sosial, dan layanan publik di wilayah Kota Sibolga dan Pandan.

“Pengalaman menghadapi bencana ini menjadi pelajaran berharga dalam mengelola pembangkit secara andal dan adaptif terhadap risiko iklim. PLN Nusantara Power tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga memastikan pengelolaan pembangkit memberi manfaat nyata bagi keselamatan masyarakat melalui operasional yang aman dan berkelanjutan,” tutup Ruly.

Ke depan, PLTA Sipansihaporas bukan hanya menjadi sumber listrik hijau bagi masyarakat, tetapi juga bagian dari perlindungan hidup warga di sekitarnya. Di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, keberadaan pembangkit ini menghadirkan lebih dari sekadar energi—ia memberi rasa aman, ketenangan, dan harapan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan aliran sungai.