Dari Balik Lumpur, Denyut Ekonomi Aceh Tamiang Perlahan Bangkit Pascabanjir

0
95
Para pedagang di Pasar Kuala Simpang, Jalan Cut Nyak Din, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai kembali beraktivitas sambil membersihkan sisa lumpur pascabanjir, Rabu (14/1/2026). (Foto: InfoPublik /Kemkomdigi)

(Vibizmedia – Nasional) Banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam bagi warga. Air bah datang tiba-tiba, merendam pasar, pertokoan, dan permukiman hingga lebih dari lima kilometer dari bantaran sungai.

Di Pasar Kuala Simpang, Jalan Cut Nyak Din, lantai kios nyaris tak terlihat, tertutup lumpur cokelat pekat. Sampah bercampur sisa dagangan menjadi penanda betapa cepat dan dahsyatnya bencana itu datang. Tanpa menunggu lama, para pedagang berinisiatif membersihkan kios masing-masing. Dengan sekop, ember, dan tenaga seadanya, mereka bekerja siang dan malam demi menyelamatkan sisa usaha.

Di lantai satu pasar, Naf­siah terlihat menyapu lumpur yang mulai mengeras. Ia mengaku kerugian yang dialaminya mencapai Rp80 juta hingga Rp100 juta. Banyak pedagang lain bernasib serupa, bahkan ada yang tak mampu menghitung kerugian karena seluruh barang dagangan rusak. Harapan hanya tersisa pada barang yang sempat terbungkus plastik agar masih bisa dijual ketika pasar kembali normal.

Di deretan pertokoan Jalan Cut Nyak Din, banjir juga melumpuhkan aktivitas ekonomi. Air masuk tanpa ampun, merusak bangunan dan memaksa usaha berhenti total. Musa bin Idris, pedagang sembako, masih mengingat jelas kejadian itu. Pada Kamis, 26 November 2025, sekitar pukul tiga sore, air mulai masuk ke kiosnya. Satu jam kemudian, ketinggian air meningkat drastis hingga tak ada waktu untuk menyelamatkan barang. Malam harinya, listrik padam dan ia bersama keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Selama hampir sebulan, Pasar Kuala Simpang lumpuh. Akses internet terputus, distribusi barang terhenti, dan transaksi nyaris tidak ada. Padahal, pasar tersebut merupakan salah satu nadi perekonomian Aceh bagian selatan.

Perlahan, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat lumpur, sementara relawan berdatangan dari berbagai daerah. Proses pembersihan berlangsung bergiliran sejak pagi hingga larut malam. Meski demikian, sebagian besar kios tetap dibersihkan sendiri oleh para pedagang karena bantuan yang ada belum sepenuhnya mencukupi.

Dua hari terakhir, Musa mulai kembali membuka kiosnya. Aktivitas jual beli memang belum normal, namun ia bersyukur sudah bisa melayani pembeli meski terbatas. Di sudut lain pasar, Mirza, pedagang buah, baru lima hari kembali berjualan. Ia menyebut baru sekitar separuh kios yang kembali beroperasi.

Masih banyak kios tertutup akibat lumpur yang belum sepenuhnya dibersihkan dan keterbatasan modal. Namun kebutuhan pokok perlahan kembali tersedia, dan pembeli mulai berdatangan meski belum seramai sebelum bencana.

Para pedagang mengakui dukungan pemerintah pusat dan daerah telah hadir, baik berupa bantuan tunai maupun logistik. Meski demikian, mereka berharap rehabilitasi pasar dapat dilakukan secara menyeluruh agar aktivitas ekonomi benar-benar pulih.

Bagi para pedagang, pasar bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sumber kehidupan keluarga. Di tengah keterbatasan, mereka memilih bertahan. Dari balik lumpur dan kerugian besar, solidaritas tumbuh kuat. Dan dengan membuka kembali kios, denyut ekonomi Aceh Tamiang perlahan kembali bernapas, menjadi tanda bahwa hidup harus terus berjalan.