Memasuki Hari ke-48 Pascabencana, Kemenhut Intensifkan Pembersihan dan Pemanfaatan Kayu di Aceh–Sumut

0
42
Foto: Kementerian Kehutanan

(Vibizmedia – Aceh Utara) Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan penanganan kayu sisa bencana hidrometeorologi di wilayah terdampak Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Hingga Sabtu, 17 Januari 2026, kegiatan pembersihan material kayu, pemulihan fasilitas umum, serta pemanfaatan kayu hanyutan bagi kebutuhan masyarakat masih berlangsung secara terpadu dan berkelanjutan.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Kementerian Kehutanan melanjutkan aksi pembersihan fasilitas umum dan kawasan permukiman dari sisa banjir. Kegiatan tersebut didukung 40 unit alat berat, terdiri atas 32 unit milik Kemenhut, 7 unit dari TNI, serta dukungan peralatan dari Kementerian PUPR. Hingga saat ini, area yang berhasil dibersihkan mencapai sekitar 16,7 hektare.

Selain itu, pembersihan juga dilakukan di lingkungan SMA Negeri 1 Langkahan, meliputi halaman dan lapangan sekolah dengan melibatkan sekitar 21 personel. Kayu hasil pemilahan di Desa Geudumbak dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara (huntara) bekerja sama dengan Rumah Zakat.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, menyampaikan bahwa pemanfaatan kayu sisa bencana tidak hanya mempercepat pemulihan lingkungan, tetapi juga membantu pemenuhan kebutuhan hunian warga terdampak. Hingga kini, sebanyak 24 unit huntara telah dibangun, dengan 6 unit sudah dihuni, 13 unit masih dalam proses pembangunan, dan 5 unit lainnya dalam tahap penyelesaian akhir.

Sementara itu, di Kabupaten Aceh Tamiang, tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan melakukan pembersihan rumah warga dari sisa lumpur, sampah, dan material banjir di Dusun Tengah, Desa Setia, Kecamatan Karang Baru. Bersamaan dengan itu, tim Gakkum Kehutanan melakukan penjagaan terhadap tumpukan kayu yang telah dikumpulkan dari lingkungan Pesantren Darul Mukhlisin.

Di Provinsi Sumatera Utara, penanganan pascabencana dilanjutkan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol. Sebanyak tiga unit ekskavator capit milik Kemenhut dikerahkan untuk membersihkan material kayu di permukiman warga dan sepanjang bantaran Sungai Garoga.

Hingga 17 Januari 2026, jumlah kayu olahan yang dihasilkan mencapai 2.005 keping dengan volume total 28,1147 meter kubik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.795 keping atau 23,8256 meter kubik telah dimanfaatkan dan disalurkan ke Desa Batu Hula serta dapur umum Desa Garoga untuk mendukung kebutuhan masyarakat terdampak.

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita, menyatakan pihaknya mendorong percepatan pemanfaatan kayu hanyutan melalui penambahan operator chainsaw serta penyusunan mekanisme pengelolaan kayu yang tertib, mulai dari identifikasi, pengumpulan, hingga pemanfaatan.

Selain pembersihan kayu, Kementerian Kehutanan melalui UPT BPDAS Asahan Barumun juga melakukan patroli dan pemantauan normalisasi Sungai Garoga. Hingga kini, pembersihan sumbatan kayu di sungai tersebut telah mencapai sekitar 2,868 kilometer atau 54,11 persen dari total target 5,3 kilometer. Normalisasi dilakukan bersama Kementerian PUPR dengan mengoperasikan 10 unit alat berat, sehingga aliran Sungai Garoga mulai kembali berfungsi normal hingga Jembatan Garoga 1 dan Garoga 2.

Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam penanganan pascabencana melalui pemulihan lingkungan, penataan kayu sisa bencana secara tertib, serta pemanfaatannya secara transparan dan berpihak pada kepentingan masyarakat terdampak.