Kemenhut, TNI, dan PUPR Intensifkan Penanganan Pascabencana di Aceh dan Sumut Manfaatkan Kayu Hanyutan

0
76

(Vibizmedia – Aceh) Kementerian Kehutanan bersama TNI dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mengintensifkan upaya penanganan pascabencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Sumatera Utara. Penanganan difokuskan pada pembersihan material kayu hanyutan yang dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan hunian sementara (huntara) serta pemulihan lingkungan di wilayah terdampak.

Di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Kementerian Kehutanan mengerahkan personel untuk melakukan pembersihan fasilitas umum dan material kayu. Kegiatan ini didukung oleh 40 unit alat berat lintas instansi yang melibatkan Kemenhut, TNI, dan Kementerian PUPR. Hingga 18 Januari 2026, luas area yang berhasil dibersihkan mencapai sekitar 27,5 hektare.

Sementara itu, di Aceh Tamiang, tim Manggala Agni melakukan pembersihan rumah warga di Dusun Tengah, Desa Setia, Kecamatan Karang Baru. Pada saat yang sama, Tim Penegakan Hukum (Gakkum) melaksanakan pengamanan tumpukan kayu di kawasan Pesantren Darul Mukhlisin. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menjelaskan bahwa pembagian tugas di lapangan dilakukan sesuai fungsi masing-masing tim agar proses pembersihan dan pengamanan berjalan efektif dan tertib.

Di wilayah Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kementerian Kehutanan mengoperasikan tiga unit ekskavator capit untuk pembersihan dan penumpukan kayu di sekitar permukiman warga, Sungai Garoga, serta pembukaan area hunian tetap di Kelurahan Aek Pining. Pada 18 Januari 2026, kegiatan ini menghasilkan 129 keping kayu olahan dengan volume 2,0560 meter kubik, sehingga total akumulasi mencapai 2.134 keping kayu dengan volume 30,1707 meter kubik. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara terukur untuk mendukung pembangunan hunian sementara dan memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Kayu hasil pemilahan di Desa Geudumbak selanjutnya dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara melalui kerja sama dengan Rumah Zakat. Hingga saat ini, telah terbangun 25 unit hunian sementara, dengan rincian 12 unit masih dalam proses pembangunan, 8 unit telah dihuni warga, dan 5 unit berada pada tahap penyelesaian akhir. Di wilayah Garoga, kayu yang dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara di Desa Batu Hula serta dapur umum Desa Garoga tercatat sebanyak 1.795 keping dengan volume 23,8256 meter kubik, tanpa adanya tambahan pengangkutan pada 18 Januari 2026.

Selain pemulihan fisik, kondisi sosial ekonomi masyarakat terdampak mulai menunjukkan perkembangan positif. Hal ini ditandai dengan dimulainya panen hasil kebun, seperti jeruk nipis, serta kembali beroperasinya kios-kios warga yang melayani aktivitas jual beli sehari-hari.