Pemprov DKI Operasikan 1.200 Pompa, Antisipasi Banjir akibat Hujan Ekstrem

0
56
Sejumlah kendaraan nekat melintasi genangan banjir di Jalan Daan Mogot, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Banjir setinggi sekitar 50–60 sentimeter akibat hujan berintensitas tinggi dan buruknya sistem drainase menyebabkan sejumlah kendaraan mogok serta mengganggu kelancaran lalu lintas. (Foto: info publik)

(Vibizmedia – Jakarta) Sejumlah pintu air di Provinsi DKI Jakarta mencatat kenaikan tinggi muka air (TMA) pada Jumat (23/1/2026) dini hari, seiring masih berlanjutnya potensi hujan lebat hingga ekstrem di wilayah Jabodetabek. Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir dan genangan, terutama di kawasan hilir dan bantaran sungai.

Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta per pukul 02.00 WIB, Pos Angke Hulu mencatat TMA 375 sentimeter dengan status siaga, menjadi salah satu titik tertinggi. Pintu Air Karet juga mengalami peningkatan dengan TMA mencapai 530 sentimeter.

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chiko Hakim, pada Kamis (22/1/2026) menjelaskan bahwa curah hujan dengan intensitas sangat tinggi menjadi faktor utama meningkatnya debit air di sejumlah titik. Curah hujan yang tercatat bahkan melampaui 200 milimeter, jauh di atas ambang hujan lebat.

“Curah hujan ini sudah masuk kategori ekstrem. Bahkan 100 milimeter saja sudah tergolong sangat tinggi. Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Indonesia sebagai dampak perubahan iklim global,” ujarnya.

Untuk menekan dampak banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan operasi modifikasi cuaca secara berkelanjutan dan dijadwalkan kembali dilaksanakan dua kali dalam waktu dekat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian curah hujan di wilayah hulu dan sekitar Jakarta.

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta menginstruksikan pengoperasian sekitar 1.200 unit pompa, yang terdiri atas 600 pompa statis dan 600 pompa mobile. Pompa dioperasikan secara maksimal untuk mempercepat penyurutan genangan di permukiman dan ruas jalan. “Pompa bekerja optimal sebagai upaya jangka pendek agar genangan cepat surut, sambil kondisi cuaca terus dipantau,” jelas Chiko.

Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang, antara lain perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, serta peningkatan kapasitas infrastruktur pengendalian banjir. Terkait genangan di ruas jalan, Chiko mengakui kapasitas drainase di sejumlah kawasan belum mampu mengimbangi curah hujan ekstrem. Urbanisasi dan pembangunan tanpa dukungan sistem drainase memadai menjadi tantangan struktural yang ditangani secara bertahap.

“Perbaikan saluran air tidak bisa ditunda, namun pekerjaan fisik di lapangan memang cukup sulit dilakukan ketika hujan masih turun terus-menerus,” ujarnya.

Pemprov DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas luar ruang yang tidak mendesak, serta menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sementara itu, kondisi di wilayah hulu terpantau relatif terkendali. Bendung Katulampa mencatat ketinggian 80 sentimeter, Pos Depok 150 sentimeter, dan Pintu Air Manggarai BKB berada di kisaran 735 sentimeter serta relatif stabil sejak tengah malam.

Untuk wilayah pesisir, Pasar Ikan–Laut mencatat TMA 183 sentimeter, sementara Waduk Pluit berada di angka minus 165 sentimeter dan masih dalam kondisi aman. Sejumlah pos lainnya, seperti Sunter Hulu dengan TMA 240 sentimeter dan Pulo Gadung 350 sentimeter, terus dipantau secara intensif.

Sebelumnya, BMKG telah mengingatkan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Banten dan DKI Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut dipicu dinamika atmosfer, termasuk pengaruh bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan dan intensitas curah hujan.

BMKG menilai hujan berintensitas tinggi dapat menyebabkan peningkatan debit sungai secara cepat dan memicu genangan di wilayah padat penduduk, khususnya Jakarta bagian tengah, barat, dan utara. Pemprov DKI Jakarta memastikan pemantauan pintu air serta sistem pengendalian banjir dilakukan selama 24 jam sebagai langkah antisipasi.