(Vibizmedia – Jakarta) Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 mencatat capaian signifikan dengan menjangkau sekitar 70 juta penduduk Indonesia hingga akhir tahun. Program ini dilaksanakan melalui 10.250 Puskesmas yang tersebar di 38 provinsi, sebagai upaya strategis pemerintah untuk memperkuat deteksi dini sekaligus memetakan kondisi kesehatan masyarakat secara nasional.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan bahwa pelaksanaan CKG menunjukkan perkembangan positif, termasuk peningkatan partisipasi masyarakat lintas gender. Pada awal pelaksanaan Maret 2025, partisipasi masih didominasi perempuan dengan porsi 64 persen. Namun, seiring masifnya sosialisasi dan kemudahan akses layanan, keterlibatan laki-laki terus meningkat hingga mencapai 45 persen pada akhir tahun.
Dari sisi wilayah, sejumlah provinsi mencatat tingkat partisipasi tertinggi secara nasional. Gorontalo menjadi daerah dengan capaian paling menonjol karena telah memeriksa lebih dari separuh penduduknya. Sementara itu, Sulawesi Tenggara hampir mencapai tingkat partisipasi 50 persen dan Maluku Utara mendekati 40 persen.
Berdasarkan kelompok usia, partisipasi tertinggi tercatat pada bayi baru lahir dengan capaian 52 persen. Kelompok usia sekolah dan remaja juga menunjukkan kinerja cukup baik dengan tingkat partisipasi sebesar 41 persen, didukung oleh kemudahan akses pemeriksaan melalui fasilitas kesehatan dan satuan pendidikan.
Namun demikian, partisipasi balita usia prasekolah masih tergolong rendah, yakni sekitar 10 persen. Maria menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh belum meratanya tingkat kesadaran masyarakat terhadap program CKG. Berdasarkan hasil evaluasi, baru sekitar 45 persen masyarakat yang mengetahui keberadaan dan manfaat program tersebut.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat upaya sosialisasi dan mendorong kolaborasi lintas sektor agar cakupan CKG semakin meluas. Program ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan serta perencanaan intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.









