Temuan CKG 2025 Ungkap Tingginya Risiko Gangguan Kesehatan di Semua Kelompok Usia

0
64
Sumber: Kemenkes

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memaparkan sejumlah temuan penting dari pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang menunjukkan masih tingginya risiko gangguan kesehatan pada berbagai kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia. Temuan tersebut menjadi dasar penguatan tata laksana CKG pada 2026.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa pada kelompok bayi, sekitar 6 persen lahir dengan berat badan rendah di bawah 2,5 kilogram. Kondisi ini berisiko meningkatkan kejadian stunting serta gangguan tumbuh kembang apabila tidak ditangani sejak dini.

Selain itu, Kemenkes juga menemukan sejumlah kelainan bawaan serius, seperti penyakit jantung bawaan kritis dan kekurangan hormon tiroid. Maria menekankan pentingnya skrining dini untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak.

“Kekurangan hormon tiroid sangat krusial untuk dideteksi sejak awal karena bila tidak ditangani, dapat menyebabkan retardasi mental yang berdampak seumur hidup,” ujar Maria di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Ia menegaskan, bayi yang terdeteksi mengalami kekurangan hormon tiroid harus segera mendapatkan pengobatan optimal dalam waktu maksimal satu bulan, dengan seluruh pembiayaan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Penguatan Skrining Menuju CKG 2026

Untuk menekan risiko gangguan kesehatan di masa mendatang, Kemenkes mendorong penguatan skrining sejak pra-kehamilan, termasuk pada calon pengantin. Ibu hamil juga diimbau menghindari paparan asap rokok dan konsumsi alkohol.

Maria menyebutkan bahwa perbedaan utama CKG 2026 dibandingkan tahun sebelumnya terletak pada penguatan tata laksana dan perawatan, khususnya pada tindak lanjut hasil pemeriksaan.

“Temuan pemeriksaan menunjukkan berbagai persoalan kesehatan signifikan di setiap fase kehidupan, mulai dari gangguan pertumbuhan pada bayi hingga ancaman penyakit kronis pada kelompok usia lanjut,” ungkapnya.

Pada kelompok balita dan anak prasekolah usia 1–6 tahun, masalah kesehatan gigi menjadi perhatian utama. Karies gigi ditemukan pada 31 persen anak atau sekitar satu dari tiga anak. Kondisi ini berpotensi menyebabkan infeksi, demam, gangguan tenggorokan, serta menghambat konsentrasi belajar dan pertumbuhan.

Selain itu, lebih dari 10 ribu balita tercatat mengalami berat badan kurang. Orang tua diimbau memberikan asupan makanan beragam dengan kandungan protein hewani, seperti telur, ikan, dan daging, serta rutin memantau pertumbuhan anak melalui Posyandu setiap bulan.

Pada kelompok usia sekolah dan remaja, satu dari lima remaja tercatat memiliki tekanan darah di atas normal. Risiko tersebut meningkat pada remaja dengan kegemukan dan obesitas yang dialami sekitar 7 persen remaja.

Masalah pendengaran juga mulai muncul akibat penggunaan earbud berlebihan. Kemenkes menyarankan penggunaan earbud maksimal satu jam per hari dengan volume terkendali. Di sisi lain, anemia masih dialami satu dari empat remaja, terutama pada siswi kelas 7 dan 10.

Memasuki usia dewasa, satu dari tiga orang mengalami obesitas sentral yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Data Kemenkes mencatat sekitar 7 juta orang dewasa memiliki tekanan darah di atas normal, serta sekitar 100 ribu orang mengalami diabetes dan prediabetes.

Pada kelompok lanjut usia, kondisi kesehatan tercatat lebih mengkhawatirkan. Sebanyak 51 persen lansia memiliki tekanan darah di atas normal, sementara 58 persen mengalami masalah kesehatan gigi yang berpotensi memicu infeksi serius.

Kepatuhan Berobat Masih Rendah

Meski berbagai penyakit berhasil terdeteksi melalui CKG, tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalani pengobatan dan kontrol lanjutan masih rendah. Dari penderita hipertensi, hanya sekitar sepertiga yang rutin mengonsumsi obat dan melakukan kontrol. Pada penderita diabetes, tingkat keberhasilan pengendalian gula darah masih di bawah 10 persen.

“Kondisi ini menjadi bahan evaluasi utama Kemenkes untuk penyempurnaan layanan kesehatan pada 2026, dengan fokus pada penguatan tindak lanjut hasil pemeriksaan dan perubahan perilaku hidup sehat,” tegas Maria.

Kemenkes pun mengimbau masyarakat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, melakukan pemeriksaan kesehatan rutin minimal setahun sekali, meningkatkan aktivitas fisik, serta patuh mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Melalui deteksi dini dan penerapan gaya hidup sehat, kualitas hidup masyarakat diharapkan meningkat dan risiko penyakit kronis di masa depan dapat ditekan.