Menteri PU Targetkan Puskesmas Darurat di Sumatera Rampung Sebelum Ramadan 2026

0
49
Puskesmas
DOK: Puskesmas Tembelang Kabupaten Jombang

(Vibizmedia-Nasional) Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menargetkan pembangunan puskesmas sementara di wilayah terdampak bencana di Sumatera dapat rampung sebelum Ramadan 2026. Fasilitas kesehatan darurat tersebut disiapkan untuk memastikan layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan selama masa pemulihan pascabencana.

Hal itu disampaikan Dody dalam rapat kerja Komisi V DPR RI bersama seluruh mitra kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Dody menjelaskan, Kementerian PU tidak hanya menangani perbaikan infrastruktur, tetapi juga melakukan pembersihan lumpur di berbagai fasilitas publik, termasuk pasar, madrasah, sekolah, dan fasilitas kesehatan, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan.

“Kami juga turut menangani pembersihan lumpur-lumpur di pasar, di madrasah, di sekolah, fasilitas-fasilitas kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, dan di beberapa tempat lainnya. Dari 171 lokasi yang sudah kami tangani, 120 lokasi sudah bisa difungsionalkan,” ujar Dody.

Selain itu, pemerintah juga membangun hunian sementara bagi warga terdampak bencana. Tercatat, 1.200 unit hunian sementara telah disiapkan dan tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dody menambahkan, atas permintaan Menteri Kesehatan, Kementerian PU juga menyiapkan puskesmas darurat di dua lokasi, yakni Aceh Tenggara dan Aceh Timur.

“Kami targetkan puskesmas sementaranya bisa selesai paling lambat sebelum bulan Ramadan 2026 atau sebelum 15 Februari 2026,” ujarnya.

Sementara itu, untuk pembangunan puskesmas permanen, Dody menargetkan penyelesaian pada akhir 2026.

Lebih lanjut, Dody mengungkapkan bahwa progres rehabilitasi infrastruktur pascabencana hingga saat ini telah mencapai sekitar 23 persen. Salah satu prioritas utama adalah perbaikan jaringan irigasi yang mengalir ke kawasan persawahan.

“Dari total yang sudah kami rehabilitasi hingga hari ini, progresnya sudah hampir 23 persen. Sesuai koordinasi dengan Kementerian Pertanian, irigasi ke arah sawah-sawah yang sudah mulai tanam menjadi prioritas,” jelasnya.

Dody juga mencatat terdapat 13 bendung nasional dan 47 bendung daerah yang terdampak bencana. Namun, progres penanganan bendung masih terbatas karena pemerintah memprioritaskan normalisasi sungai di wilayah yang masih rawan hujan dan banjir, seperti Tapanuli Selatan dan Tamiang.

“Kami lebih fokus melakukan normalisasi sungai, dengan pengerukan dan memanfaatkan hasil pengerukan sebagai tanggul sementara,” katanya.

Saat ini, progres normalisasi sungai telah mencapai 52 persen. Pemerintah menargetkan penanganan 77 sungai nasional dan 43 sungai daerah yang terdampak dapat diselesaikan pada Oktober 2026.

Selain itu, pemerintah juga mengusulkan pembangunan sejumlah sabo dam dan check dam di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Infrastruktur tersebut ditargetkan rampung paling lambat Oktober 2028 sebagai upaya pengendalian sedimen dari wilayah hulu.

“Kami melihat potensi kerusakan di hulu masih sangat besar. Jika hujan lebat terus terjadi, sedimen berupa pasir dan kayu masih berpotensi turun ke wilayah hilir,” paparnya.

Di sektor air bersih, Dody mengungkapkan terdapat 176 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana. Saat ini, hampir 70 persen SPAM telah berhasil difungsikan kembali.

“Kami targetkan seluruh SPAM bisa kembali fungsional selambatnya 15 Februari 2026, sedangkan untuk pembangunan permanen ditargetkan selesai hingga Agustus 2028,” tutup Dody.