Penunjukan Thomas Djiwandono Tandai Babak Baru Sinergi Fiskal dan Moneter

0
60
Thomas Djiwandono kini menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (Foto: Infopublik)

(Vibizmedia – Nasional) Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai mencerminkan adaptasi kelembagaan bank sentral terhadap dinamika ekonomi global yang semakin kompleks. Di tengah fragmentasi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta volatilitas arus modal internasional, koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter kian menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai perubahan lanskap global menuntut bank sentral tidak lagi hanya berfokus pada stabilitas harga, tetapi mengambil peran yang lebih strategis dan terintegrasi dalam kerangka kebijakan ekonomi nasional.

“Selama puluhan tahun, bank sentral dibayangkan sebagai menara gading—independen, steril, dan terpisah dari dinamika kekuasaan—dengan inflasi sebagai satu-satunya kompas kebijakan. Namun dunia telah berubah. Globalisasi semakin terfragmentasi, geopolitik kini menentukan arus modal, dan kebijakan fiskal serta moneter tidak lagi bisa berjalan sendiri,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).

Menurut Fakhrul, latar belakang Thomas Djiwandono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan tidak seharusnya dimaknai sebagai bentuk politisasi bank sentral. Sebaliknya, hal tersebut merupakan respons institusional terhadap tuntutan zaman yang menuntut sinergi lintas kebijakan.

“Penunjukan Thomas Djiwandono perlu dipahami sebagai adaptasi terhadap era yang menuntut koordinasi, strategi, dan penguatan ketahanan ekonomi nasional. Tantangan hari ini bukan semata menjaga inflasi tetap rendah, tetapi memastikan stabilitas makroekonomi yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengalaman di bidang fiskal menjadi aset penting dalam memperkaya perumusan kebijakan moneter agar lebih kontekstual terhadap kebutuhan pembiayaan pembangunan dan pengelolaan risiko global. Sebaliknya, perspektif moneter juga dapat memperkuat desain kebijakan fiskal agar lebih disiplin, kredibel, dan berkelanjutan.

Dalam jangka pendek, Fakhrul menilai penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp16.700 per dolar AS menjadi sinyal meredanya tekanan pasar. Ia juga menyoroti pemaparan Thomas Djiwandono dalam rapat bersama DPR yang menekankan penguatan tata kelola kebijakan yang kredibel, peningkatan efektivitas kebijakan, penguatan resiliensi sistem keuangan, akselerasi sinergi fiskal–moneter–sektor keuangan, serta keberlanjutan transformasi sektor keuangan nasional.

“Ke depan, sinergi moneter dan fiskal akan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Dunia pascapandemi telah menunjukkan bahwa stabilitas tanpa pertumbuhan bukanlah sebuah kemenangan. Bank sentral harus tetap kredibel, tetapi juga relevan dan adaptif terhadap realitas baru ekonomi global,” pungkas Fakhrul.