Industri Baja Nasional Kian Kokoh, Kemenperin Dukung Investasi CGL 2 Tata Metal Lestari

0
52
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Purwakarta) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat struktur industri logam nasional sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi berkelanjutan. Komitmen tersebut ditandai dengan dimulainya pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 milik PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, industri baja nasional memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan berbagai industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi.

Dalam lima tahun terakhir, Kemenperin mencatat produksi baja nasional meningkat hampir 98,5 persen dibandingkan 2019 yang mencapai 8,5 juta ton. Peningkatan ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif.

Untuk menjaga momentum tersebut, Kemenperin mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis, antara lain penerapan instrumen pengamanan perdagangan, pemberlakuan SNI wajib, fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), peningkatan penggunaan produk dalam negeri, insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau. Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik dan ekspor.

Kemenperin mengapresiasi komitmen PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group dalam memperkuat industri baja nasional melalui investasi berkelanjutan. Pembangunan fasilitas CGL 2 dinilai sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan kemandirian industri dan hilirisasi.

Direktur Industri Logam Kemenperin Dodiet Prasetyo, mewakili Dirjen ILMATE Setia Diarta, menyampaikan bahwa fasilitas tersebut diharapkan dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri. Pembangunan CGL 2 juga diyakini mampu memperkuat ekosistem industri baja dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong perekonomian lokal.

Sementara itu, VP of Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi menegaskan, pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat industri antara (midstream) baja nasional sebagai penghubung rantai pasok hulu dan hilir. Saat ini, PT Tata Metal Lestari tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

Fasilitas CGL 2 dirancang untuk memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun, melengkapi kapasitas produksi sebelumnya sebesar 500 ribu ton per tahun dari CGL 1 di Cikarang, Bekasi. Proyek ini merupakan bagian dari peta jalan perusahaan untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton dalam 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Dalam pengembangannya, PT Tata Metal Lestari menggandeng Tenova, perusahaan teknologi asal Italia, guna memastikan penerapan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan. Investasi ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi.

Selain memperkuat ketahanan industri nasional, kehadiran CGL 2 diharapkan memberikan dampak berganda bagi daerah, khususnya melalui penciptaan sekitar 350 lapangan kerja baru serta penggerakan ekonomi lokal di Kabupaten Purwakarta dan Provinsi Jawa Barat. Proyek dengan total investasi lanjutan sebesar Rp1,5 triliun ini juga menjadi yang pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga mampu meningkatkan usia pakai baja hingga empat kali lipat.