BI Perkuat Bauran Kebijakan, Tahan BI-Rate 4,75 Persen

0
55
Bank Indonesia (Foto: Dok. Bank Indonesia)

(Vibizmedia – Nasional) Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat sinergi dengan Program Asta Cita Pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pada triwulan IV tahun 2025 hingga Januari 2026, kebijakan moneter ditempuh melalui penahanan suku bunga acuan BI-Rate, penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, serta optimalisasi strategi operasi moneter yang bersifat pro-market.

“Berbagai kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, BI mempertahankan BI-Rate pada Oktober – Desember 2025, serta Januari 2026 di level 4,75 persen. Kebijakan ini bersifat antisipatif untuk meredam dampak ketidakpastian global terhadap stabilitas rupiah, sekaligus memperkuat efektivitas pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh.

BI terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan. Di sisi lain, akselerasi pengembangan sistem pembayaran digital terus dilakukan untuk mendukung ekonomi dan keuangan digital nasional, termasuk mendorong elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah.

Masa yang akan datang, BI tetap membuka ruang penurunan BI-Rate lebih lanjut. Perry menegaskan, peluang tersebut akan terus dicermati dengan mempertimbangkan prakiraan inflasi 2026–2027 yang diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

BI di dalam menjaga stabilitas nilai tukar, juga memperkuat strategi stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan NDF di pasar domestik. Selain itu, BI aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

TStrategi lainnya, BI memperkuat operasi moneter pro-market guna mendukung stabilisasi rupiah sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA). Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter, mendorong penurunan suku bunga, serta memperluas likuiditas di perekonomian.