IKI Januari 2026 Cetak Rekor Tertinggi, Manufaktur Awali Tahun dengan Tren Positif

0
47
Industri manufaktur
Industri manufaktur. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Kinerja sektor industri pengolahan nasional mengawali tahun 2026 dengan tren yang semakin positif. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 tercatat sebesar 54,12, meningkat 2,22 poin dibandingkan Desember 2025 dan menjadi capaian tertinggi sejak IKI pertama kali diluncurkan pada November 2022.

“Capaian ini juga lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan Januari 2025, yang menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, dalam rilis IKI Januari 2026 di Jakarta, Kamis (29/1).

Dari sisi makroekonomi, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026 dinilai memberikan sinyal stabilitas bagi dunia usaha. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta konsistensi pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Meski demikian, inflasi pada Desember 2025 tercatat meningkat menjadi 2,92 persen secara tahunan dan 0,64 persen secara bulanan, yang dipengaruhi faktor musiman akhir tahun serta gangguan pasokan.

Pada sektor riil, aktivitas manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi. Indeks PMI S&P Global Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat sebesar 51,2, menandai ekspansi selama lima bulan berturut-turut meski mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada Triwulan IV 2025 meningkat menjadi 51,86 persen dan diproyeksikan terus menguat pada Triwulan I 2026.

Febri menjelaskan, struktur IKI Januari 2026 menunjukkan perbaikan yang merata. Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi, sementara hanya tiga subsektor yang masih mengalami kontraksi. Subsektor yang berada di zona ekspansi tersebut memberikan kontribusi sebesar 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas.

“Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk merespons peningkatan permintaan menjelang Ramadan, Hari Raya Idulfitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” jelasnya.

Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Januari 2026 adalah Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer, serta Industri Mesin dan Perlengkapan. Menurut Febri, kenaikan IKI pada subsektor tersebut juga dipengaruhi oleh respons positif pelaku industri terhadap surat Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan, meskipun usulan tersebut masih dalam tahap pembahasan antarkementerian.

Sementara itu, subsektor yang masih mengalami kontraksi meliputi Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, serta Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik. Kondisi ini antara lain dipengaruhi pelemahan permintaan ekspor, faktor musiman, serta dampak dinamika geopolitik global.

Berdasarkan komponen penyusunnya, seluruh variabel IKI pada Januari 2026 berada di zona ekspansi. Indeks pesanan tercatat sebesar 55,27, meningkat 2,51 poin, sementara indeks produksi melonjak ke level 54,86 atau naik 6,45 poin setelah mengalami kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut. Adapun indeks persediaan berada di level 50,14, meski mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kembalinya variabel produksi ke zona ekspansi disebabkan industri tengah intensif memproduksi barang untuk memenuhi peningkatan permintaan pada hari besar keagamaan Februari–Maret 2026,” ujar Febri.

Survei IKI juga menunjukkan kondisi kegiatan usaha secara umum masih tergolong baik. Sebanyak 78,5 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik dan stabil, meningkat dibandingkan Desember 2025. Tingkat optimisme pelaku industri naik menjadi 72,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 4,5 persen.

IKI berorientasi pasar ekspor pada Januari 2026 tercatat sebesar 54,62, meningkat 2,26 poin dibandingkan Desember 2025. Sementara itu, IKI berorientasi pasar domestik juga mengalami peningkatan dan tetap berada di zona ekspansi, mencerminkan permintaan dalam negeri masih menjadi penopang utama kinerja industri di tengah pemulihan pasar global yang belum sepenuhnya stabil.

Febri menambahkan, penguatan IKI juga didukung oleh meningkatnya realisasi investasi industri pengolahan. Pada Triwulan IV 2025, realisasi investasi industri pengolahan mencapai Rp218,2 triliun, atau menyumbang 43,9 persen dari total investasi nasional. Selain itu, kenaikan impor barang modal sebesar 17,27 persen secara tahunan pada November 2025 mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas dan peremajaan mesin industri.

Ke depan, Kementerian Perindustrian akan terus memperkuat kebijakan strategis untuk menjaga momentum ekspansi industri, antara lain melalui penguatan pasar domestik, peningkatan daya saing industri berorientasi ekspor, pendalaman struktur industri, serta percepatan transformasi industri hijau dan digital.

“Capaian IKI Januari 2026 menjadi modal awal yang kuat bagi industri nasional untuk terus tumbuh secara berkelanjutan sepanjang tahun 2026,” pungkasnya.