PLN Optimalkan FABA untuk Dukung ESG, Serap 3,44 Juta Ton Sepanjang 2025

0
39
Pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu untuk tetrapod yang berfungsi mencegah terjadinya abrasi dan memperkuat struktur pantai.

(Vibizmedia – Jakarta) PT PLN (Persero) terus mengakselerasi pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA), residu pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), secara berkelanjutan sebagai bagian dari penerapan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG).

Sepanjang 2025, PLN Group berhasil memanfaatkan 3,44 juta ton FABA atau setara 103,46 persen dari total produksi FABA tahun tersebut. Angka ini meningkat 2,44 persen dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai 3,40 juta ton.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan, FABA tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sumber daya bernilai tambah yang mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.

“PLN melihat FABA sebagai potensi strategis. Pemanfaatannya tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, serta mendukung pembangunan infrastruktur nasional,” ujar Darmawan.

Sejak 2023, pemanfaatan FABA PLN menunjukkan tren peningkatan signifikan. Seiring optimalisasi pemanfaatan sebagai limbah non-B3, volume timbunan FABA di ash yard juga terus menurun. Kondisi ini mencerminkan sistem pengelolaan FABA yang semakin terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus meminimalkan potensi dampak lingkungan dari residu pembangkitan.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo menambahkan, pemanfaatan FABA juga berkontribusi nyata terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Hingga Desember 2025, pengurangan emisi yang dihasilkan mencapai 166.472 ton CO₂, terutama melalui substitusi semen, penggunaan pada subgrade jalan, beton pracetak, dan beton ready mix.

Selain sektor infrastruktur, FABA juga dimanfaatkan sebagai penetralisir air asam tambang dan pembenah tanah untuk mendukung sektor pertanian. Saat ini, PLTU di lingkungan PLN Group telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 300 mitra pemanfaat FABA, yang mencakup badan usaha berizin, UMKM, pemerintah daerah, TNI/Polri, kelompok masyarakat, hingga lembaga pemasyarakatan di sekitar pembangkit.

Pada tahun ini, PLN juga merencanakan uji coba lapangan (field test) pemanfaatan FABA di badan sungai bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane dan Dinas Lingkungan Hidup. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas air sungai yang menurun akibat limbah pertanian, industri, dan domestik.

“Seluruh pembangkit PLN kini menjadi pusat perbaikan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Kami ingin memastikan pembangkit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi dan lingkungan sekitar,” kata Rizal.

Pemanfaatan FABA skala industri dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai sektor. Salah satunya sebagai bahan baku semen Portland Composite Cement (PCC) melalui kolaborasi dengan 15 pabrik semen nasional yang melibatkan 18 PLTU. Di sektor pertambangan, PLTU Ombilin bekerja sama dengan perusahaan tambang di Sumatera Barat, dengan total pemanfaatan FABA mencapai 251.406 ton hingga Desember 2025.

Selain itu, PLN Group juga bermitra dengan 22 perusahaan batching plant yang memanfaatkan FABA dari 13 PLTU. PLTU Tanjung Jati B tercatat sebagai unit dengan pemanfaatan terbesar, mencapai 140.436 ton yang digunakan oleh lebih dari 15 perusahaan batching plant.

Pemanfaatan FABA kini juga semakin meluas ke sektor pertanian, didukung oleh regulasi dan standardisasi nasional melalui penerbitan SNI 9387:2025 tentang FABA sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk.

“Dengan hadirnya standar nasional ini, pemanfaatan FABA menjadi lebih luas, aman, dan terarah. Selain solusi pengelolaan limbah, FABA juga berpotensi meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan,” ujar Rizal.

Ke depan, PLN turut menggandeng Japan Carbon Frontier Organization (JCOAL) untuk pengembangan Granulated Coal Ash (GCA), produk turunan FABA berbentuk butiran yang dapat dimanfaatkan sebagai penjernih air serta substitusi agregat kasar dalam upaya pemulihan ekosistem perairan.