Menparekraf Dukung Kolaborasi Java Jazz Festival 2026 untuk Perkuat Industri Kreatif

0
44
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyatakan kesiapan Kementerian Ekraf untuk mendukung kolaborasi penyelenggaraan Jakarta International Java Jazz Festival 2026. Festival musik tersebut dinilai sebagai contoh keberhasilan intellectual property (IP) berbasis event yang mampu berkelanjutan dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Hal itu disampaikan Menteri Ekraf saat menerima audiensi PT Java Festival Production di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

“Java Jazz Festival bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi bukti bahwa IP event Indonesia dapat terus relevan dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Kami siap mendukung kolaborasi agar festival ini semakin memberi dampak positif bagi industri kreatif nasional,” ujar Teuku Riefky.

Tahun 2026 menandai penyelenggaraan Java Jazz Festival yang ke-21. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada 29–31 Mei 2026 di Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) PIK 2.

Sejak pertama kali digelar pada 2005, Java Jazz Festival konsisten membangun ekosistem musik yang memberikan nilai ekonomi sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia. Sejumlah festival turunan seperti Java Soulnation, Java Rockin’land, Soundsfair, dan Hodgepodge Festival turut memperkaya portofolio industri pertunjukan nasional.

President Director Java Jazz Festival, Dewi Gontha, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi baru di PIK 2 didasarkan pada kemudahan akses bagi pengunjung domestik dan internasional. Lokasi tersebut dinilai strategis karena dekat dengan bandar udara serta didukung ketersediaan akomodasi yang memadai.

“Selama perhelatannya, Java Jazz Festival telah menghadirkan lebih dari 4.000 musisi internasional. Perpindahan ke NICE salah satunya untuk memudahkan akses musisi mancanegara. Tema *Beyond The Horizon Where Dreams Take The Stage* kami pilih karena ingin berkembang ke ruang yang lebih besar, sekaligus mengusung konsep archipelago dengan melibatkan musik-musik dari daerah,” ujar Dewi.

Dalam kesempatan tersebut, Dewi juga menyampaikan harapan agar Kementerian Ekraf dapat berkolaborasi dalam mendukung penyelenggaraan Java Jazz Festival 2026. Berdasarkan data penyelenggara, mayoritas pengunjung Java Jazz berasal dari kawasan Asia Tenggara dengan persentase mencapai 52 persen, disusul pengunjung dari Amerika, Eropa, dan Afrika.

Audiensi ini turut dihadiri Direktur Keuangan PT Java Festival Production, Dwi Cahyono. Sementara itu, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya didampingi Direktur Musik Kementerian Ekraf, Mohammad Amin.