OJK Perkuat Pengawasan Perbankan di Tengah Kompleksitas dan Akselerasi Digitalisasi

0
42
Foto: OJK

(Vibizmedia – Jakarta) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat pengawasan sektor perbankan di tengah meningkatnya kompleksitas kegiatan usaha dan pesatnya transformasi digital industri perbankan. Penguatan pengawasan ini diarahkan untuk meningkatkan ketahanan perbankan menghadapi berbagai gejolak sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, saat menjadi pembicara dalam *The EMEAP–BCBS–FSI 20th Asia-Pacific High-level Meeting on Banking Supervision* serta *Senior Official Meeting East Asia Pacific Central Banks – Working Group on Banking Supervision* yang berlangsung di Tianjin, Tiongkok, pada 27–29 Januari 2026, sebagaimana dikutip dari siaran pers OJK, Rabu (4/2/2026).

Forum tingkat tinggi tersebut membahas berbagai isu strategis sektor perbankan kawasan Asia Pasifik, mulai dari prospek stabilitas keuangan dan risiko yang berkembang, regulasi dan daya saing perbankan, aset kripto dan tantangan pengaturannya, dinamika pengawasan perbankan, hingga isu penipuan digital.

Dalam sesi diskusi mengenai regulasi dan daya saing perbankan, Dian menegaskan bahwa kompleksitas regulasi sektor keuangan, khususnya perbankan, terus meningkat seiring perkembangan industri. Oleh karena itu, pengawasan perbankan yang efektif harus didukung kapabilitas yang kuat.

Menurut Dian, kompleksitas tersebut dipicu oleh semakin beragamnya aktivitas perbankan, percepatan digitalisasi, evolusi modus penipuan dan pencucian uang, serta pembelajaran dari berbagai krisis perbankan global yang menegaskan pentingnya penguatan kerangka regulasi dan pengawasan berbasis prinsip kehati-hatian.

OJK, lanjut Dian, terus mendorong peningkatan kualitas pengawasan melalui pemanfaatan advanced supervisory technology (suptech) berbasis kecerdasan artifisial dan machine learning, serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, OJK tetap mendukung perbankan untuk memperluas kegiatan usaha dan meningkatkan daya saing, dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Seiring meningkatnya inklusi keuangan dan perubahan preferensi nasabah akibat digitalisasi, OJK secara aktif mendorong transformasi digital perbankan melalui Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan sebagai landasan strategis untuk memperkuat ketahanan, daya saing, dan kontribusi sektor perbankan. OJK juga memperkuat ketahanan digital melalui Pedoman Resiliensi Digital serta Pedoman Tata Kelola Kecerdasan Artifisial guna memitigasi risiko digital yang kian kompleks.

Selain itu, OJK memberikan perhatian khusus terhadap risiko digital fraud yang berkaitan dengan aset kripto. Meski berpotensi meningkatkan efisiensi sistem keuangan, aset kripto juga memiliki risiko penyalahgunaan, termasuk untuk menyamarkan aliran dana ilegal, sehingga membutuhkan penguatan pengaturan, pengawasan, serta koordinasi lintas lembaga dan lintas negara.

“Kerja sama lintas yurisdiksi menjadi sangat penting dan perlu terus diperkuat, mengingat transaksi aset kripto bersifat lintas batas,” tegas Dian.

Partisipasi OJK dalam forum ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan kualitas pengawasan perbankan, serta secara proaktif merespons berbagai tantangan dan risiko sektor keuangan global demi menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

The EMEAP–BCBS–FSI Asia-Pacific High-level Meeting on Banking Supervision merupakan pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Executives’ Meeting of East Asia-Pacific Central Banks Working Group on Banking Supervision (EMEAP WGBS), Basel Committee on Banking Supervision (BCBS), dan Financial Stability Institute (FSI), yang diikuti oleh deputi gubernur bank sentral, pimpinan otoritas pengawasan perbankan, serta perwakilan otoritas dan industri perbankan di kawasan Asia Pasifik.