Indonesia–AS Tegaskan Komitmen Perdagangan dan Investasi Berkelanjutan

0
47
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Kebijakan Dewan Bisnis Amerika Serikat–ASEAN (United States–ASEAN Business Council/USABC) Marc P. Mealy di Jakarta, Kamis (5/2). Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui dialog yang terbuka, konstruktif, serta berorientasi pada kepentingan bersama agar semakin kompetitif dan berkelanjutan, termasuk melalui kolaborasi publik dan swasta.

Wamendag Roro menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia terus berupaya menciptakan iklim perdagangan dan investasi yang kondusif serta selaras dengan agenda pembangunan nasional. Pemerintah juga berkomitmen mendorong kerja sama perdagangan dan investasi yang seimbang dan saling menguntungkan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kebijakan perdagangan dan kebijakan terkait lainnya dirancang untuk menjaga kepentingan nasional tanpa menghambat kegiatan usaha. Kami terbuka terhadap masukan dari dunia usaha internasional dan memastikan setiap kebijakan diimplementasikan secara proporsional, jelas, serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” ujar Wamendag Roro.

Terkait hubungan perdagangan Indonesia–Amerika Serikat, Wamendag Roro menjelaskan bahwa pembahasan mengenai kerja sama dan isu tarif masih terus berlangsung melalui koordinasi lintas kementerian. Pemerintah Indonesia berharap proses tersebut dapat menghasilkan kesepakatan yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara serta memperluas akses pasar.

Sementara itu, Marc P. Mealy mengapresiasi keterbukaan Pemerintah Indonesia dalam membangun komunikasi dengan komunitas bisnis. Ia menekankan bahwa kepastian kebijakan dan dialog yang berkelanjutan sangat penting bagi dunia usaha dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.

Dalam pertemuan tersebut, USABC juga menyampaikan pandangan dan masukan dari perusahaan-perusahaan anggotanya terkait berbagai isu kebijakan, termasuk pentingnya penerapan kebijakan industri yang strategis dan fleksibel di sektor-sektor prioritas. Pendekatan strategis diperlukan agar kebijakan memiliki arah yang jelas dan selaras dengan tujuan pembangunan nasional, sementara fleksibilitas dalam implementasi dibutuhkan untuk memberikan ruang penyesuaian, kejelasan masa transisi, serta kepastian bagi pelaku usaha. USABC menilai dialog yang berkesinambungan dapat membantu menemukan solusi yang seimbang bagi pemerintah dan dunia usaha.

Selain isu bilateral, kedua pihak turut membahas kerja sama regional di tingkat ASEAN, termasuk dukungan terhadap penyelesaian Digital Economy Framework Agreement (DEFA) serta inisiatif pengembangan ekonomi sirkular dan hijau. USABC menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dalam meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan perjanjian tersebut, khususnya bagi usaha kecil dan menengah.

Pada kesempatan yang sama, Wamendag Roro mengundang komunitas bisnis Amerika Serikat untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai ajang promosi produk unggulan Indonesia dan penguatan jejaring dagang. Undangan tersebut disambut positif oleh USABC sebagai peluang untuk mendorong peningkatan perdagangan dan investasi dua arah.

Pertemuan ini mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan USABC untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi melalui dialog yang erat, saling pengertian, serta langkah-langkah konkret guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam pertemuan tersebut, Wamendag Roro didampingi Direktur Perundingan ASEAN Kementerian Perdagangan Nugraheni Prasetya Hastuti dan Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Danang Prasta Danial.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat pada 2025 tercatat sebesar USD 30,95 miliar, sementara impor dari Amerika Serikat mencapai USD 12,84 miliar. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD 18,11 miliar. Total nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 43,80 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 38,55 miliar.