(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan capaian yang menggembirakan dengan surplus sebesar USD 41,05 miliar. Nilai tersebut meningkat 31,03 persen dibandingkan surplus tahun 2024 yang sebesar USD 31,33 miliar. Capaian ini diraih di tengah tekanan proteksionisme global serta penurunan harga sejumlah komoditas utama, sehingga memberikan optimisme dalam menghadapi tantangan perdagangan global pada 2026.
Selain itu, Indonesia juga mencatatkan surplus bulanan sebesar USD 2,51 miliar pada Desember 2025, sekaligus menandai 68 bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia berada dalam posisi surplus sejak Mei 2020.
Hal tersebut disampaikan Mendag Budi Santoso dalam media briefing “Capaian Kinerja 2025 dan Program Kerja 2026” di Jakarta, Jumat (6/2). Dalam kesempatan tersebut, Mendag memaparkan tiga program utama Kementerian Perdagangan sepanjang 2025, yaitu Pengamanan Pasar Domestik, Perluasan Pasar Ekspor, serta Pemberdayaan UMKM melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Acara ini turut dihadiri Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri beserta jajaran Eselon I Kemendag.
“Neraca perdagangan Indonesia pada 2025 mencatat surplus USD 41,05 miliar atau tumbuh 31,03 persen. Meski tantangan global semakin besar, kami tetap optimistis kinerja perdagangan Indonesia akan terus tumbuh dan ekspor dapat terus ditingkatkan dalam berbagai kondisi pasar global,” ujar Mendag Busan.
Dari sisi ekspor migas dan nonmigas, nilai ekspor Indonesia pada 2025 mencapai USD 282,91 miliar, tumbuh 6,15 persen dibandingkan 2024 sebesar USD 266,53 miliar. Pasar utama ekspor Indonesia meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Singapura. Mendag menegaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekspor nasional meskipun harga komoditas global mengalami penurunan.
Ekspor nonmigas mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 7,66 persen, dengan nilai mencapai USD 269,84 miliar pada 2025, naik dari USD 250,65 miliar pada 2024. Negara tujuan dengan pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi antara lain Swiss, Singapura, Uni Emirat Arab, Thailand, dan Bangladesh. Secara kawasan, pertumbuhan ekspor tertinggi tercatat ke Asia Tengah (59,39 persen), Afrika Barat (56,66 persen), dan Eropa Barat (43,95 persen).
Struktur ekspor Indonesia pada 2025 masih didominasi sektor industri manufaktur dengan kontribusi 80,27 persen, diikuti sektor pertambangan dan lainnya (12,67 persen), migas (4,62 persen), serta pertanian (2,43 persen). Sektor pertanian mencatat pertumbuhan tertinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 21,01 persen, disusul industri pengolahan yang tumbuh 14,47 persen.
Di sisi impor, struktur impor Indonesia pada 2025 masih didominasi bahan baku dan bahan penolong sebesar 70,00 persen, diikuti barang modal (20,73 persen) dan barang konsumsi (9,27 persen). Impor barang konsumsi turun 1,35 persen, sementara impor bahan baku dan bahan penolong turun 0,83 persen. Sebaliknya, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 20,06 persen, mencerminkan peningkatan investasi dan ekspansi kapasitas produksi dalam negeri.
“Komposisi impor ini menunjukkan bahwa aktivitas industri nasional masih kuat, karena impor lebih banyak dimanfaatkan sebagai input produksi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan ekspor,” tegas Mendag Busan.
Sepanjang 2025, Kemendag terus memperluas akses pasar ekspor melalui penyelesaian dan penandatanganan berbagai perjanjian dagang strategis, antara lain Indonesia–Peru CEPA, Indonesia–Canada CEPA, *Upgrading* ATIGA, ASEAN–China FTA, serta Indonesia–EAEU FTA. Hingga 2025, Indonesia telah mengimplementasikan 20 perjanjian dagang, memiliki 15 perjanjian dalam proses ratifikasi, dan 11 perjanjian dalam tahap perundingan.
Indonesia juga mencatat keberhasilan dalam penyelesaian sengketa dagang di WTO, termasuk kemenangan kasus melawan Uni Eropa terkait biodiesel, baja nirkarat, dan produk sawit, yang turut mengamankan akses pasar ekspor senilai sekitar Rp7,34 triliun.
Dalam promosi perdagangan, Kemendag mengoptimalkan peran perwakilan perdagangan di luar negeri melalui Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), serta mengembangkan empat Export Center di Surabaya, Makassar, Batam, dan Balikpapan. Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 pada Oktober 2025 mencatat total transaksi USD 22,8 miliar dengan partisipasi 8.000 *buyer* dari 130 negara, termasuk kontribusi UMKM sebesar USD 474,7 juta.
Program UMKM BISA Ekspor pada 2025 menghasilkan 662 kegiatan *business matching* dengan nilai transaksi USD 134,87 juta, serta melibatkan 1.217 pelaku usaha. Program pelatihan dan pendampingan juga diperkuat melalui Export Coaching Program (ECP), yang berhasil membukukan transaksi ekspor USD 10,02 juta.
Di pasar domestik, Kemendag menjaga stabilitas melalui Program Belanja Nasional dengan capaian transaksi signifikan, antara lain Friday Mubarak (Rp72,3 triliun), Holiday Sale (Rp69,2 triliun), dan Epic Sale (Rp54,88 triliun). Pemerintah juga memastikan ketersediaan dan stabilitas harga kebutuhan pokok, termasuk MINYAKITA, dengan dukungan regulasi dan pengawasan distribusi yang diperkuat.
Menghadapi 2026, Mendag Busan menyampaikan optimisme terhadap prospek perdagangan nasional. Pemerintah akan menjalankan tiga program utama, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, serta program Dari Lokal untuk Global yang mencakup Desa BISA Ekspor dan penguatan peran UMKM.
“Dengan sinergi kebijakan, penguatan daya saing, dan perluasan pasar, kami optimistis kinerja perdagangan Indonesia pada 2026 akan terus tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Mendag Busan.









