(Vibizmedia-Nasional) Sektor industri pengolahan kembali menegaskan peran strategisnya sebagai penopang utama perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan yang stabil dalam tiga tahun terakhir dan diproyeksikan mencapai 5,30 persen pada 2025.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan capaian tersebut tidak lepas dari ketahanan sektor industri dalam negeri di tengah dinamika ekonomi global. Menurutnya, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya.
Kinerja positif industri pengolahan turut didorong oleh sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang mencatat pertumbuhan 5,11 persen pada 2025, meningkat dari 4,21 persen pada tahun sebelumnya. Sektor IKFT berkontribusi sebesar 3,87 persen terhadap PDB, dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83 persen.
Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo, menyebut pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukkan sektor ini tetap menjadi penopang penting industri pengolahan nonmigas. Ia menambahkan, kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 8,35 persen, naik dari 5,86 persen pada 2024. Selain itu, subsektor industri barang galian bukan logam juga mencatat pertumbuhan 6,16 persen setelah sebelumnya mengalami kontraksi 0,6 persen.
Dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatat surplus neraca selama Januari–November 2025. Nilai ekspor mencapai USD 49,15 miliar atau meningkat USD 6,26 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kontributor utama berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia dengan nilai ekspor USD 20,79 miliar. Sementara itu, ekspor industri kimia berbasis pertanian naik dari USD 6,25 miliar menjadi USD 9,25 miliar, dan subsektor industri alas kaki meningkat dari USD 2 miliar menjadi USD 3 miliar.
Sri Bimo menilai peningkatan permintaan global terhadap produk IKFT dalam negeri mencerminkan daya tahan sektor tersebut dalam rantai pasok dunia. Dari sisi investasi, realisasi investasi sektor IKFT selama Januari–September 2025 mencapai Rp142,15 triliun, naik dari Rp116,54 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi terbesar tercatat pada subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar Rp58,4 triliun.
Optimisme pelaku industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 yang berada di level ekspansif 54,12, meningkat dari 51,90 pada bulan sebelumnya. Pemerintah menilai sinyal positif ini menjadi dorongan untuk terus menjaga iklim usaha yang kondusif.
Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk mempercepat pelaksanaan program prioritas guna meningkatkan daya saing industri nasional, termasuk sektor IKFT. Upaya tersebut dilakukan melalui pendalaman struktur industri dari hulu ke hilir serta pengembangan industrialisasi berkelanjutan untuk mempercepat substitusi impor dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.









