(Vibizmedia – Jakarta) Teuku Riefky Harsya selaku Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mendorong pengembangan gastronomi Indonesia sebagai intellectual property (IP) yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi. Upaya ini sejalan dengan komitmen kementerian untuk mengangkat potensi ekonomi kreatif daerah agar semakin berdaya saing.
Hal tersebut disampaikan Menteri Ekraf saat menerima audiensi Indonesia Gastronomy Community (IGC) di Autograph Tower, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
“Terima kasih atas upaya menggali budaya kita. Di Kementerian Ekonomi Kreatif, kami mendorong agar kekayaan budaya dapat menjadi IP yang bisa dikomersialisasikan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” ujar Riefky.
Menurutnya, gastronomi Indonesia berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru (new engine of growth) karena bertumpu pada kekuatan budaya lokal yang memiliki diferensiasi tinggi di setiap daerah. Salah satu contoh yang dinilai strategis adalah tumpeng, yang hadir dengan variasi khas di berbagai wilayah dan memiliki fondasi kuat untuk dikembangkan sebagai IP gastronomi nasional.
Dengan penguatan storytelling, tumpeng tidak hanya relevan sebagai produk budaya, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen diplomasi lunak (soft diplomacy) Indonesia di tingkat global.
Dalam kesempatan tersebut, IGC memaparkan berbagai inisiatif sejak berdiri pada Juni 2020 sebagai komunitas nirlaba yang berfokus pada pelestarian makanan dan minuman Indonesia beserta nilai budaya dan filosofinya. IGC juga berperan sebagai penggerak ekosistem gastronomi berbasis riset, kurasi, serta penguatan IP kuliner Nusantara.
Ketua Umum IGC periode 2023–2026, Ria Musiawan, menyatakan bahwa hampir enam tahun kiprah IGC menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi strategis, khususnya dengan pemerintah.
“IGC adalah komunitas yang mencintai makanan, minuman, budaya, dan filosofi gastronomi. Kami ingin tumpeng semakin dikenal dan dipahami maknanya sebagai simbol persatuan. Kami berharap pertemuan ini menjadi awal kolaborasi yang lebih konkret,” ujarnya.
Ria menambahkan, salah satu prioritas IGC adalah penguatan IP gastronomi nasional melalui pengembangan Buku Tumpeng Indonesia sebagai National Gastronomy IP. Selain itu, IGC mengusulkan kurasi dan penguatan storytelling UMKM kuliner, pengembangan Gastronomy Creative Hub, pameran berbasis experience economy, integrasi gastronomi dalam promosi ekonomi kreatif nasional dan global, serta model gastronomi berbasis dampak sosial melalui edukasi pangan lokal.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, turut mengapresiasi konsistensi IGC dalam mengangkat kekayaan kuliner berbasis sejarah dan budaya. Ia menekankan pentingnya kurasi dan narasi yang kuat agar kuliner Indonesia memiliki daya saing global.
Menurut Yuke, banyak kuliner Nusantara memiliki potensi sebagai makanan vegan-friendly, gluten-free, halal, dan sehat. Jika dikemas dengan narasi yang tepat, potensi tersebut dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus omzet pelaku usaha.
Sebagai tindak lanjut, tradisi pertumpengan dinilai dapat dijadikan proyek percontohan (pilot project) untuk menunjukkan besarnya nilai komersial IP gastronomi nasional.
Audiensi ini menegaskan semakin kuatnya sinergi antara pemerintah dan komunitas dalam membangun ekosistem gastronomi berbasis intellectual property, sekaligus memperkuat posisi kuliner Nusantara sebagai identitas budaya dan penggerak ekonomi kreatif Indonesia.









