BNPB Catat Karhutla, Banjir, dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah dalam 24 Jam Terakhir

0
42
Banjir
Kondisi rumah warga yang terdampak banjir di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis, 26 Februari 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Tanah Air dalam kurun 24 jam hingga Jumat, 27 Februari 2026 pukul 07.00 WIB. Data yang dihimpun Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB menunjukkan bencana hidrometeorologi kering dan basah masih mendominasi laporan.

Karhutla di Aceh dan Sulawesi Tengah

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Desa Pemuka, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh pada Rabu (25/2) pukul 10.30 waktu setempat. Lahan perkebunan seluas 30 hektar yang dikelola pihak swasta dilaporkan terbakar. Penyebab kejadian masih dalam penyelidikan.

BPBD Kabupaten Aceh Singkil mengerahkan personel dan peralatan berupa tiga unit mesin alkon serta alat suntik gambut untuk memadamkan api. Hingga Kamis (26/2), upaya pemadaman masih berlangsung.

Karhutla juga terpantau di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Titik api pertama terdeteksi di sisi jalan trans Desa Labuan Donggulu, Kecamatan Kasimbar, pada Rabu (25/2) malam. Angin kencang menyebabkan api cepat menjalar ke area perkebunan warga.

Hasil kaji cepat BPBD setempat mencatat luas lahan terbakar mencapai 2,5 hektar dan berpotensi meluas. Tim gabungan dari BPBD, pemadam kebakaran, aparat desa, dan masyarakat masih melakukan pemadaman serta pemantauan titik api hingga Kamis (26/2).

Banjir di NTB dan Kalimantan Utara

Banjir juga melanda Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (26/2) pukul 06.30 waktu setempat. Sebanyak 150 unit rumah terdampak akibat hujan deras sejak pagi hari.

BPBD setempat melakukan asesmen serta pemenuhan kebutuhan logistik bagi warga terdampak. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan status tanggap darurat banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem selama 90 hari sejak 19 Januari hingga 18 April 2026.

Di Provinsi Kalimantan Utara, banjir merendam 10 kecamatan di Kabupaten Nunukan sejak Selasa (24/2) malam. Kecamatan terdampak meliputi Lumbis Hulu, Lumbis Pensiangan, Lumbis Ogong, Lumbis, Sembakung Atulai, Sembakung, Krayan, Krayan Timur, Krayan Barat, dan Sebuku.

Banjir berdampak pada 4.033 kepala keluarga atau lebih dari 12 ribu jiwa. Sebanyak 30 orang mengungsi di Pos BPBD Kecamatan Lumbis. Selain itu, 10 unit homestay, dua fasilitas pendidikan, satu fasilitas umum, serta satu tiang PLN terdampak. Ketinggian air dilaporkan mencapai satu hingga tiga meter.

Kenaikan tinggi muka air masih terjadi di sejumlah kecamatan hingga Kamis (26/2) akibat hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Malinau akibat luapan Sungai Malinau, Sungai Mentarang, dan Sungai Sesayap. Tiga desa di empat kecamatan terdampak, yakni Mentarang, Malinau Kota, Malinau Barat, dan Malinau Utara. Satu balita dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus. BPBD setempat bersama pemerintah daerah melakukan evakuasi warga menggunakan perahu serta menyalurkan bantuan darurat.

Angin Kencang di Sumenep

Sementara itu, angin kencang melanda Desa Banmelang, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur pada Kamis (26/2) pukul 07.00 waktu setempat. Sebanyak satu rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan 14 rumah rusak ringan, dengan kerusakan dominan pada atap dan dinding. BPBD Kabupaten Sumenep melakukan koordinasi dan asesmen lanjutan.

Potensi Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan

BNPB mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Maluku dalam sepekan ke depan. Kondisi ini meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Jika hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam, warga disarankan melakukan evakuasi mandiri ke tempat aman serta menjauhi pohon, tiang, dan bangunan yang berisiko roboh saat angin kencang.

Untuk mencegah karhutla, masyarakat diimbau tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok di area rawan kebakaran. Jika terjadi kebakaran yang menimbulkan asap, warga disarankan menggunakan masker guna melindungi kesehatan pernapasan.