(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan bantuan bagi warga yang baru menempati hunian sementara (huntara) di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Kamis (26/2). Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada sepuluh keluarga penyintas banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky di Desa Beusah Seberang, Peureulak Barat.
Sebanyak 150 paket sembako disalurkan kepada warga. Selain itu, BNPB juga memberikan perlengkapan rumah tangga berupa 600 lembar matras serta masing-masing 150 unit kasur, kompor, karpet, dan kipas angin. Bantuan tersebut menjadi dukungan awal bagi warga sembari menunggu distribusi perabotan huntara dari Kementerian Sosial.
Kepala BNPB menjelaskan, keluarga yang telah menempati huntara membutuhkan bahan pokok serta perlengkapan dasar seperti alat memasak dan alas tidur. Terlebih, kondisi cuaca di siang hari cukup panas sehingga kipas angin diperlukan untuk menunjang kenyamanan warga.
“BNPB berinisiatif untuk memberikan barang-barang sementara, ada kasur, ada kompor, ada kipas angin, karena kalau siang panas sekali. Kemudian ada karpet dan ada matras,” ujar Suharyanto.
Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto juga mengingatkan kembali kriteria kategori rumah rusak sesuai petunjuk pelaksanaan. Salah satu indikatornya adalah tinggi timbunan lumpur saat bencana. Lumpur setinggi 20 sentimeter hingga satu meter masuk kategori rusak ringan, sedangkan di atas satu meter tergolong rusak sedang hingga berat.
Ia meminta warga yang belum terdata agar tidak berkecil hati dan segera mengajukan ulang melalui pemerintah desa. Terkait bantuan dana perbaikan rumah rusak ringan dan sedang, BNPB meminta pihak perbankan mempermudah proses pencairan.
Sebanyak 80 persen dana bantuan dapat langsung dicairkan ke rekening penerima, sementara 20 persen sisanya dicairkan setelah ada konfirmasi bahwa rumah telah dibersihkan atau diperbaiki yang diketahui kepala desa atau geuchik.
“Dana 20 persen itu tetap menjadi hak warga. Hanya saja pencairannya menunggu konfirmasi bahwa perbaikan sudah dilakukan,” jelasnya.
Sebelum acara penyerahan bantuan, Kepala BNPB bersama jajaran meninjau sejumlah unit huntara di Peureulak Barat menggunakan sepeda motor. Kegiatan juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan diakhiri dengan buka puasa bersama warga.
1.503 Unit Huntara Selesai Dibangun
Pembangunan huntara bagi warga terdampak bencana di Aceh Timur menunjukkan progres signifikan. Hingga Rabu (25/2), sebanyak 1.503 unit huntara insitu yang dibangun BNPB telah rampung 100 persen.
Jumlah tersebut merupakan bagian dari total 2.437 unit huntara yang ditangani BNPB. Rinciannya, 243 unit masih dalam tahap penyelesaian dengan progres di atas 50 persen, sementara 691 unit lainnya masih di bawah 50 persen.
Secara keseluruhan, sebanyak 1.722 unit huntara telah atau siap dihuni, terdiri atas 1.503 unit huntara insitu dan 219 unit huntara komunal atau 44 kopel yang dibangun bersama berbagai pihak.
Sebaran huntara insitu terbanyak berada di Kecamatan Pante Bidari sebanyak 941 unit, sedangkan paling sedikit di Kecamatan Indra Makmur sebanyak 2 unit.
Kepala BNPB juga meninjau langsung huntara yang telah dihuni warga di Kecamatan Simpang Ulim, Banda Alam, dan Idi Rayeuk.
Selain pembangunan huntara, BNPB menyalurkan skema Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga dengan rumah rusak berat. Sebanyak 432 kepala keluarga memilih skema tersebut. Dari jumlah itu, 373 rekening penerima telah terbit dan penyaluran buku rekening masih terus dilakukan.
BNPB memastikan percepatan penyediaan hunian sementara menjadi prioritas agar masyarakat terdampak dapat segera memperoleh tempat tinggal yang layak selama masa pemulihan pascabencana.









