Kemendukbangga Orkestrasi Lintas Sektor Demi Bonus Demografi

0
41

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji memperkenalkan gerakan “Prasara dan Vistara” sebagai strategi memperkuat promosi dan sosialisasi program prioritas pembangunan keluarga. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Tim Penggerak PKK dari tingkat provinsi hingga desa.

“Prasara berarti promosi, Vistara berarti sosialisasi. Konsepnya sederhana, tetapi pelaksanaannya harus masif dan terstruktur,” ujar Wihaji dalam kegiatan di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari transformasi kelembagaan yang menempatkan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan nasional.

Wihaji menjelaskan, perubahan status BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga bertujuan memperkuat mandat negara, bukan menghapus fungsi yang telah berjalan. Kementerian kini mengemban dua tugas utama, yakni pengendalian penduduk dan pembangunan keluarga.

Jika sebelumnya kebijakan lebih berfokus pada pengaturan kelahiran melalui kontrasepsi, kini pendekatan diperluas untuk memastikan kualitas warga negara sejak lahir hingga lanjut usia guna memaksimalkan bonus demografi. Wihaji menegaskan bahwa seluruh program kementerian merupakan bagian dari pelaksanaan visi Presiden.

Ia menambahkan, berbagai program prioritas nasional—mulai dari ketahanan pangan dan energi, pemenuhan gizi, hingga layanan kesehatan—pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan keluarga sebagai unit terkecil negara.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan kerangka kerja yang jelas dan implementasi nyata hingga tingkat desa. Dalam proses transformasi, Kemendukbangga menetapkan tiga arah kebijakan utama, yaitu:

Kesejahteraan Keluarga sebagai Basis Kebijakan — keluarga dijadikan unit mikro utama dalam setiap pengambilan keputusan.

Integrasi Lintas Sektor — kementerian berperan sebagai integrator yang mengoordinasikan berbagai pihak, termasuk PKK, Posyandu, dan Tim Pendamping Keluarga.

Penguatan Satu Data Keluarga — seluruh intervensi program berbasis pada data yang akurat dan terintegrasi.

Berdasarkan data yang dikelola bersama Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki sekitar 286 juta penduduk yang terbagi dalam 74 juta keluarga. Di dalamnya terdapat kelompok prioritas, antara lain 3,7 juta keluarga dengan anak di bawah dua tahun (baduta), 10,1 juta keluarga dengan balita, serta sekitar 46 juta remaja.

Kemendukbangga memberi perhatian khusus pada keluarga dengan baduta sebagai langkah strategis menekan stunting. Wihaji menekankan bahwa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode krusial bagi tumbuh kembang anak.

Melalui strategi Prasara dan Vistara, Kemendukbangga berkomitmen menjalankan pembangunan berbasis siklus kehidupan—mulai dari calon pengantin, pasangan usia subur, hingga lansia. “Semua berawal dari keluarga dan bermuara pada keluarga,” pungkas Wihaji.