(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memaparkan perkembangan terbaru situasi campak di tingkat nasional dan global dalam konferensi pers daring pada Kamis (26/2/2026). Penyampaian ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat menyusul masih ditemukannya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah daerah di Indonesia.
Data nasional menunjukkan bahwa sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium serta 69 kematian (CFR 0,1 persen). Sementara hingga minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Pada periode tersebut juga terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi.
Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan maksimal dan penanganan cepat.
“Setiap peningkatan kasus harus segera ditindaklanjuti melalui sistem surveilans yang kuat dan pelaporan tepat waktu,” ujarnya.
Ia menambahkan, jumlah temuan kasus suspek pada 2025 meningkat tajam hingga 147 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga penguatan sistem kewaspadaan dini menjadi prioritas pemerintah.
Kementerian Kesehatan terus memperkuat pemantauan melalui investigasi epidemiologi maksimal 24 jam setelah kasus ditemukan serta pelaporan real-time menggunakan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Lonjakan kasus campak juga terjadi di berbagai negara, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat, yang meningkatkan risiko penularan lintas batas. Indonesia bahkan menerima notifikasi International Health Regulations (IHR) terkait kasus campak pada warga negara asing asal Australia yang sempat melakukan perjalanan dan tinggal sementara di Indonesia. Seluruh kasus tersebut telah dinyatakan sembuh, dan koordinasi antarnegara terus dilakukan.
Sementara itu, Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, menjelaskan bahwa fluktuasi kasus campak sangat berkaitan dengan ketimpangan cakupan imunisasi di daerah.
Menurutnya, meskipun secara nasional target imunisasi campak-rubella telah tercapai, kasus masih muncul di wilayah tertentu—baik provinsi, kabupaten, maupun desa—yang memiliki tingkat imunisasi rendah, sehingga lebih rentan mengalami KLB.
Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan surveilans, respons cepat terhadap KLB, serta kerja sama lintas sektor dengan pemerintah daerah guna mencegah meluasnya penularan campak di Indonesia.
Informasi ini disampaikan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI. Masyarakat dapat menghubungi Halo Kemenkes di hotline 1500-567 atau melalui email [kontak@kemkes.go.id](mailto:kontak@kemkes.go.id) untuk informasi lebih lanjut.









