Antisipasi Gejolak Global, RI Bangun Cadangan Minyak hingga 90 Hari

0
61
Kilang BBM yang dioperasikan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) di Balikpapan, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. Pertamina)

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah telah mendapatkan investor asing untuk membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude storage) di Indonesia.

Proyek strategis tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan kapasitas cadangan minyak dari kondisi saat ini menjadi setara dengan kebutuhan hingga 90 hari. Langkah ini juga menjadi respons terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

“Investasinya sudah ada, investornya juga sudah ada,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya, Rabu (4/3/2026).

Menurut Bahlil, skema pendanaan proyek ini berasal dari kombinasi investasi dalam negeri dan luar negeri. Namun ia menegaskan bahwa investor asing yang terlibat bukan berasal dari Amerika Serikat.

Ia juga menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut akan dilakukan oleh pihak swasta. “Investasinya gabungan dari dalam negeri dan luar negeri, tetapi bukan dari AS. Pembangunan storage ini juga akan dilakukan oleh pihak swasta,” katanya.

Melalui pembangunan fasilitas ini, pemerintah menargetkan kapasitas penyimpanan minyak mentah nasional dapat meningkat signifikan dari sekitar 25–26 hari menjadi setara dengan kebutuhan selama 90 hari atau sekitar tiga bulan.

Program ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian serta ketahanan energi nasional. “Bapak Presiden memberikan arahan agar fasilitas storage ini segera dibangun. Kita membutuhkan kemampuan bertahan. Jika tidak, kita akan terus bergantung pada pihak lain,” ujar Bahlil.

Percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pada akhir Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Media Iran bahkan melaporkan bahwa Selat Hormuz disebut telah “secara efektif” tertutup, meskipun hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai blokade jalur tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis dunia yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global, atau sekitar 20 juta barel per hari, serta menjadi jalur utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.