Bahlil: BBM Subsidi Tidak Akan Naik sampai Hari Raya

0
64
Foto: Pertamina

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau tahun 2026.

Kepastian tersebut disampaikan Bahlil melalui keterangan resmi pada Rabu (4/3/2026). Ia menegaskan bahwa pemerintah akan tetap menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi meskipun terjadi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.

“Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan sampai Hari Raya tidak ada kenaikan, sekalipun terjadi kenaikan harga minyak akibat konflik Israel, Amerika Serikat, dan Iran,” ujar Bahlil.

Menurutnya, pemerintah saat ini memprioritaskan stabilitas pasokan kebutuhan pokok, termasuk energi seperti BBM dan LPG, serta menjaga kondisi ekonomi nasional selama bulan suci Ramadan.

Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah sebelumnya telah menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional untuk mengantisipasi kebutuhan energi menjelang Idulfitri. Dari hasil rapat tersebut dipastikan bahwa stok BBM dan LPG berada dalam kondisi aman.

“Stok BBM menjelang Hari Raya Idulfitri insyaallah aman, termasuk LPG,” katanya.

Sementara itu, untuk BBM non-subsidi, Bahlil menjelaskan bahwa penetapan harga mengikuti mekanisme pasar sesuai Peraturan Menteri ESDM Tahun 2022. Dengan mekanisme tersebut, harga BBM non-subsidi dapat menyesuaikan dengan perkembangan harga minyak dunia.

Ia juga meluruskan informasi yang beredar mengenai ketahanan stok BBM nasional yang disebut hanya cukup untuk sekitar 20 hari akibat konflik di Timur Tengah. Menurut Bahlil, angka tersebut bukan kondisi darurat, melainkan mencerminkan kapasitas penyimpanan (storage) BBM yang selama ini dimiliki Indonesia.

“Sejak dulu kemampuan storage BBM kita memang berada di kisaran 21 hingga 25 hari,” jelasnya.

Bahlil menambahkan bahwa standar ketahanan stok nasional berada pada kisaran minimal 20–21 hari dan maksimal sekitar 25 hari. Berdasarkan rapat bersama Dewan Energi Nasional, rata-rata ketahanan stok BBM nasional saat ini berada di level 22–23 hari.

Ia menegaskan keterbatasan tersebut lebih disebabkan oleh kapasitas tangki penyimpanan yang belum memadai untuk menampung cadangan lebih besar, bukan karena pemerintah kesulitan menyediakan pasokan energi.

“Kalau kita ingin menambah cadangan, persoalannya kita menyimpan di mana? Storage kita memang belum cukup,” ujarnya.

Karena itu, Bahlil juga meminta media agar pemberitaan mengenai stok BBM disampaikan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Menurutnya, persoalan utama terkait ketahanan stok BBM lebih berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur penyimpanan, bukan pada ketersediaan pasokan energi.