Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksikan USD124 Miliar, Pemerintah Perkuat Sektor Engineering

0
42
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Jakarta) Untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) 2030, dunia diperkirakan membutuhkan investasi sekitar USD4–USD7 triliun setiap tahun. Namun, investasi tersebut tidak hanya besar secara nilai, tetapi juga harus bersifat cerdas dan berkelanjutan. Karena itu, digitalisasi dan keberlanjutan kini tidak lagi berjalan terpisah, melainkan saling terintegrasi.

Indonesia saat ini dinilai menjadi salah satu laboratorium aktif bagi inovasi yang menggabungkan digitalisasi dan keberlanjutan. Hal ini tercermin dari proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai USD124 miliar pada 2025, terbesar di kawasan ASEAN. Pada periode yang sama, tingkat penetrasi koneksi seluler di Indonesia mencapai 116 persen, dengan sekitar 230 juta pengguna internet dan 180 juta akun media sosial.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat ke-51 dalam World Digital Competitiveness Rankings 2025. Posisi tersebut memang bergeser dari peringkat ke-43 pada 2024, namun pemerintah tetap memandangnya secara optimistis.

Menurutnya, salah satu tantangan yang perlu diperkuat adalah sektor rekayasa teknik (engineering) agar Indonesia dapat kembali meningkatkan daya saing digitalnya. Hal itu disampaikan Airlangga dalam sambutannya pada peringatan World Engineering Day 2026 yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia, dengan dukungan World Federation of Engineering Organizations dan UNESCO di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Indonesia sendiri telah menetapkan arah pembangunan dalam RPJMN 2025–2045, dengan target masuk 45 besar Global Innovation Index pada 2030. Selain itu, dalam Cyber Security Index 2024, Indonesia juga telah berada pada Tier 1 yang dikategorikan sebagai negara “role model”.

Airlangga menekankan bahwa para insinyur dan pembuat kebijakan memiliki tanggung jawab untuk memastikan keberhasilan digital tersebut dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi seperti AI dan Big Data untuk mengatasi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari kelangkaan air, optimalisasi jaringan energi, hingga pembangunan kota yang tangguh.

Meski demikian, Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga insinyur, terutama seiring dorongan pemerintah untuk mengembangkan industri semikonduktor dan ekonomi digital.

“Kita membutuhkan tambahan sekitar 45 persen insinyur dari jumlah yang ada saat ini. Untuk industri semikonduktor saja diperlukan sekitar 15 ribu insinyur, sementara sektor digital membutuhkan tambahan sekitar 150 ribu insinyur per tahun selama enam tahun ke depan,” jelas Airlangga.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia telah mendorong program pelatihan vokasi, retraining, dan reskilling bagi tenaga kerja. Selain itu, kerja sama pelatihan juga dijalin antara Danantara dan Arm Limited, yang akan memberikan pelatihan kepada 15 ribu insinyur dalam ekosistem teknologi ARM.

Di bidang kecerdasan buatan, Indonesia juga mencatat pencapaian penting dengan menjadi negara pertama di ASEAN yang berhasil menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi AI, tetapi juga tengah mempersiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk mengembangkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.

Secara global, industri yang cepat mengadopsi AI tercatat mampu memperoleh pendapatan tiga kali lebih tinggi dibandingkan industri yang lambat beradaptasi, dengan peningkatan produktivitas dari 8,5 persen menjadi 27 persen. AI sendiri diproyeksikan dapat memberikan kontribusi hingga USD15,7 triliun terhadap perekonomian global pada 2030. Di Indonesia, AI generatif diperkirakan berpotensi menambah nilai ekonomi hingga USD243,5 miliar.

Airlangga menegaskan bahwa Indonesia merupakan pasar AI yang sangat potensial, namun negara ini tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Indonesia juga harus mampu menjadi pencipta sekaligus pemilik teknologi tersebut.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa pembangunan dunia yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu negara saja. Melalui peringatan World Engineering Day 2026, ditekankan kembali bahwa misi rekayasa teknik tidak hanya soal inovasi, tetapi juga tentang tanggung jawab membangun dunia yang lebih cerdas, hijau, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Airlangga juga mengajak Persatuan Insinyur Indonesia untuk semakin aktif memobilisasi tenaga insinyur nasional, memperkuat standar profesional, mempercepat sertifikasi, serta mendorong praktik rekayasa teknik yang etis dan inovatif guna mendukung pengembangan semikonduktor, AI, dan teknologi hijau di Indonesia.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ilham Akbar Habibie selaku Ketua Umum PII, Seng Chuan Tan, Maki Katsuno Hayashikawa, Sekjen Kementerian Luar Negeri Denny Abdi, serta Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Hermansyah Siregar.