Kemendag Lepas Ekspor 75 Ton Rumput Laut dari Gudang SRG di Maros

0
138
Foto: Kemendag

(V(bizmedia – Maros Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mengoptimalkan pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG  sebagai instrumen strategis dalam mendorong ekspor komoditas Indonesia ke pasar global. Komitmen tersebut salah satunya ditunjukkan melalui pelepasan ekspor sebanyak 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai USD 100.215 atau sekitar Rp1,7 miliarke Tiongkok. Pelepasan ekspor ini dilakukan dari Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Maros, Sulawesi Selatan, pada Rabu (4/3).

Gudang SRG AsiaMina merupakan satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) sebagai pengelola gudang SRG. Perusahaan ini menjadi salah satu pengelola gudang komoditas rumput laut yang aktif menerapkan sistem SRG. Dari gudang tersebut, ekspor rumput laut secara rutin dilakukan ke sejumlah negara, termasuk Tiongkok dan Spanyol.

Menteri Perdagangan yang akrab disapa Mendag Busan  menyampaikan bahwa Kementerian Perdagangan terus memperluas akses pasar internasional melalui sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, pengelola gudang SRG, hingga para eksportir. Ke depan, pemanfaatan SRG juga akan diintegrasikan dengan program Desa BISA Ekspor (DBE) agar dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pelaku usaha, termasuk petani.

“Kemendag memberikan berbagai dukungan yang dapat dimanfaatkan pengelola SRG, koperasi, serta petani untuk meningkatkan daya saing produk di tingkat produsen melalui program DBE. Selain itu, akses pasar bagi komoditas yang tersimpan di gudang SRG juga diperluas melalui kegiatan pitching dan penjajakan bisnis business matching*) yang difasilitasi oleh Atase Perdagangan RI serta Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara,” ujar Mendag Busan.

Ia menambahkan, melalui program DBE, komoditas unggulan seperti rumput laut yang dihasilkan oleh petani dan nelayan di berbagai desa dapat disimpan di gudang SRG dan dipasarkan ketika harga sedang menguntungkan. Program DBE sendiri bertujuan memperkuat ekosistem ekspor di tingkat desa melalui enam pilar strategi, yaitu penguatan sumber daya manusia ekspor, pengembangan produk, peningkatan produktivitas dan teknologi, perbaikan logistik, akses pembiayaan, serta promosi dan perluasan pasar.

Di tengah tantangan perdagangan global serta penurunan harga sejumlah komoditas, Indonesia tetap berupaya memperluas ekspor ke berbagai negara. Pemerintah juga terus mengambil langkah antisipatif terhadap dinamika dan ketidakpastian geopolitik global guna menjaga stabilitas perdagangan nasional.

Menurut Mendag Busan, SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen tunda jual, tetapi juga berperan dalam membuka akses pasar yang lebih luas. Selain itu, sistem ini mampu menyediakan informasi mengenai ketersediaan, sebaran, mutu, serta nilai komoditas, sekaligus memberikan tingkat kepercayaan dan keamanan yang lebih tinggi dalam transaksi perdagangan.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya mengungkapkan bahwa nilai ekspor rumput laut Indonesia ke pasar dunia pada 2025 mencapai USD 317,55 juta. Negara tujuan utama ekspor tersebut antara lain Tiongkok, Amerika Serikat, Spanyol, Jepang, dan Belanda.

“SRG memiliki peran strategis dalam mendukung ekspor komoditas unggulan dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, pengelola gudang SRG juga memiliki peluang untuk meningkatkan kompetensi dan memperkuat komunikasi sehingga mampu memperluas akses pasar ekspor bagi produk yang mereka kelola,” jelas Tirta.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Asia Sejahtera Mina Tbk., Indra Widiadarma, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Perdagangan kepada para pelaku usaha yang berperan sebagai pengelola gudang SRG. Menurutnya, dukungan tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk menembus pasar ekspor melalui berbagai kegiatan promosi dan pameran di luar negeri.

“Harapannya, SRG dapat terus mendukung para eksportir melalui skema pembiayaan perbankan yang lebih kompetitif. Dengan dukungan tersebut, produk Indonesia akan semakin berdaya saing di pasar internasional dan kinerja ekspor nasional dapat terus meningkat,” ujar Indra.