BNPB Catat Karhutla dan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Daerah pada Awal Maret 2026

0
34
Karhutla
Personil pemadam kebakaran melakukan pemadaman api yang membakar lahan di Kecamatan Samatiga, Aceh Barat dengan penyemprotan air pada Senin, 9 Maret 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode 9–10 Maret 2026. Memasuki akhir dasarian pertama bulan Maret, beberapa daerah dilaporkan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak cuaca ekstrem.

Di Provinsi Aceh, kebakaran lahan terjadi di dua lokasi di Kabupaten Aceh Barat, yakni di Gampong Alue Raya dan Gampong Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga. Peristiwa yang terjadi pada Senin (9/3) sekitar pukul 09.45 WIB tersebut menghanguskan sekitar dua hektar lahan.

Kejadian itu pertama kali diketahui dari laporan masyarakat setempat. Menindaklanjuti laporan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat bersama tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, serta masyarakat langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.

Upaya penanganan darurat dilakukan dengan penyekatan api di wilayah Gampong Suak Pante Breuh. Hingga Selasa (10/3) pagi, kebakaran lahan tersebut masih dalam proses penanganan oleh petugas di lapangan.

Masih di Provinsi Aceh, karhutla juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Gampong Glee Taron, Kecamatan Darul Imarah. Kebakaran yang terjadi pada Senin (9/3) pukul 06.05 WIB itu menghanguskan sekitar lima hektar perkebunan kelapa sawit.

BPBD Kabupaten Aceh Besar mengerahkan satu unit armada pemadam kebakaran dari Pos Peukan Bada ke lokasi kejadian. Setelah dilakukan upaya pemadaman selama beberapa jam, api berhasil dipadamkan pada pukul 09.50 WIB.

Sementara itu, dari Provinsi Kalimantan Utara dilaporkan kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan sekitar 9,5 hektar lahan milik warga di Desa Binusa, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan. Kebakaran yang terjadi pada Senin (9/3) petang tersebut diduga dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah oleh warga yang kemudian merambat ke lahan di sekitarnya.

Setelah menerima laporan dari masyarakat, BPBD Kabupaten Nunukan segera mengerahkan tim ke lokasi terdampak untuk melakukan pemadaman. Api akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas sekitar pukul 23.00 WITA.

Selain karhutla, BNPB juga mencatat kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang menerjang Desa Burau Pantai, Kecamatan Burau, pada Minggu (8/3).

Peristiwa tersebut menyebabkan sebanyak 19 kepala keluarga terdampak. Tercatat sebanyak 16 unit rumah mengalami kerusakan akibat terjangan angin, dengan rincian tiga unit rusak berat, enam unit rusak sedang, dan tujuh unit rusak ringan.

BPBD Kabupaten Luwu Timur telah melakukan asesmen di lokasi kejadian serta melakukan pendataan bersama pemerintah desa dan kecamatan setempat guna menentukan langkah penanganan lanjutan bagi warga terdampak.

Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal

BNPB menyampaikan bahwa berdasarkan laporan kejadian bencana pada dasarian pertama Maret 2026, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang masih mendominasi di sejumlah wilayah Indonesia. Namun pada saat yang sama, bencana hidrometeorologi kering berupa kebakaran hutan dan lahan juga mulai terjadi di beberapa daerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal pada tahun 2026, yakni sekitar bulan April.

Wilayah yang diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih maju meliputi sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Menghadapi masa peralihan musim tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi selama musim hujan, seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, banjir, serta gelombang tinggi.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta tidak lengah terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan. BNPB mengingatkan warga untuk tidak membakar sampah, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta memastikan bara api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.