BNPB Salurkan Dana Tunggu Hunian bagi 259 KK Korban Banjir di Aceh Tamiang

0
36
Hunian sementara
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi saat menyerahkan bantuan dana tunggu hunian (DTH) kepada warga yang terdamapk bencana di Kecamatan Rantau , Kabupaten Aceh Tamiang, pada Selasa, 10 Maret 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan bantuan dana tunggu hunian (DTH) kepada 259 kepala keluarga (KK) korban banjir yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Para penerima bantuan merupakan warga dari Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Kantor Kecamatan Rantau pada Selasa (10/3).

Kepala BNPB, Suharyanto bersama Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi menyerahkan bantuan tersebut kepada lima perwakilan kepala keluarga. Penyaluran ini merupakan bagian dari tahap kedua untuk warga Kecamatan Rantau, dengan total penerima DTH mencapai 969 KK.

Bantuan DTH diberikan kepada keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat banjir dan memilih untuk menyewa rumah atau tinggal sementara di rumah kerabat. Pemerintah pusat melalui BNPB akan menyalurkan bantuan ini hingga pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak selesai.

Setiap keluarga menerima bantuan DTH sebesar Rp1,8 juta untuk periode tiga bulan, yakni Januari hingga Maret 2026.

“Bantuan DTH akan diberikan sampai rumah hunian tetapnya selesai dibangun,” ujar Suharyanto di hadapan warga penerima bantuan.

Selain DTH, BNPB juga menyalurkan bantuan bahan pokok kepada 259 KK serta bingkisan bagi anak-anak. Bantuan ini diberikan untuk membantu kebutuhan dasar keluarga terdampak sebelum mereka menerima bantuan jaminan hidup (jadup) dan bantuan ekonomi sebesar Rp5 juta dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto juga menjelaskan mengenai dua skema pembangunan hunian tetap yang disiapkan pemerintah bagi warga terdampak, yakni huntap insitu dan huntap terpusat. Huntap insitu dibangun di lahan milik warga atau di lokasi rumah mereka yang rusak akibat bencana. Sementara itu, huntap terpusat dibangun di lahan yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang sendiri telah menyiapkan beberapa titik lokasi untuk pembangunan huntap terpusat. Suharyanto mendorong warga agar segera mendaftarkan pilihan hunian mereka, khususnya bagi yang memilih pembangunan huntap insitu karena prosesnya diperkirakan dapat dilakukan lebih cepat.

“Segera nanti daftar, dan itu mungkin dibangun lebih cepat,” ujarnya.

Pembangunan huntap insitu direncanakan dimulai setelah libur Lebaran. Untuk skema ini, pembangunan akan dilakukan oleh BNPB, sementara huntap terpusat nantinya dibangun oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang masih berfokus pada percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak yang masih tinggal di tenda pengungsian. Suharyanto menargetkan agar para pengungsi dapat segera menempati huntara sebelum Hari Raya Idulfitri.

“Kami menargetkan sebelum hari raya, satu minggu lagi, mudah-mudahan tercapai. Yang masih di tenda itu semuanya dapat menempati huntara,” katanya.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 2.248 unit huntara telah selesai dibangun. Warga yang belum menempati fasilitas tersebut diharapkan segera berpindah ke hunian yang lebih layak sambil menunggu pembangunan hunian tetap yang disiapkan pemerintah.