IKM Kerajinan Indonesia Didorong Tembus Pasar Global Lewat Home InStyle 2026 di Hong Kong

0
42
Kerajinan Furniture dan Dekorasi Kayu Jepara - Jawa Tengah - Indonesia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/AGUSTINUS PURBA

(Vibizmedia-Nasional) Industri kerajinan menjadi salah satu sektor strategis dalam struktur industri nasional karena memiliki kekuatan pada kreativitas, warisan budaya, serta pemanfaatan sumber daya lokal. Di tengah dinamika perdagangan global, industri kerajinan Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan daya saing yang semakin kuat, didukung oleh inovasi desain, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar ekspor.

Untuk memperkuat sektor tersebut, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menjalankan berbagai program strategis yang mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), fasilitasi sertifikasi dan standardisasi, penguatan desain dan branding, hingga pembukaan akses pasar ekspor melalui partisipasi dalam berbagai ajang internasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri kerajinan memiliki peran penting dalam memperkuat struktur industri berbasis nilai tambah sekaligus membawa identitas budaya Indonesia ke pasar dunia.

“Industri kerajinan tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi juga duta budaya Indonesia di pasar global,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/3).

Sebagai bagian dari strategi perluasan pasar global, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) memfasilitasi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan untuk berpartisipasi dalam pameran internasional Home InStyle 2026 yang akan diselenggarakan pada 27–30 April 2026 di Hong Kong.

Pameran business-to-business (B2B) untuk sektor produk rumah tangga dan gaya hidup tersebut diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Ajang ini menjadi platform strategis yang mempertemukan produsen, desainer, distributor, serta buyer internasional dari berbagai negara.

Berdasarkan rilis resmi HKTDC, pameran tersebut mampu menarik sekitar 100.000 buyer global, dengan lebih dari 20.000 buyer berasal dari 131 negara dan wilayah. Tingginya partisipasi ini menjadikan ajang tersebut sebagai sarana efektif untuk promosi, penjajakan kerja sama dagang, serta peningkatan peluang ekspor secara langsung maupun berkelanjutan melalui platform digital terintegrasi.

Menperin menyampaikan bahwa keikutsertaan pada ajang ini menjadi momentum penting bagi pelaku IKM untuk memperluas jaringan kemitraan, mendorong peningkatan ekspor, serta memperkuat posisi produk kriya nasional dalam rantai pasok global.

“Melalui partisipasi ini, IKM kriya Indonesia memperoleh kesempatan untuk mempromosikan produk unggulan, menjajaki potensi kerja sama dagang, serta meningkatkan peluang transaksi ekspor secara langsung dan berkelanjutan,” ujarnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan bahwa kinerja ekspor kerajinan Indonesia menunjukkan tren yang positif. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor kerajinan mencapai USD 806,63 juta atau tumbuh sebesar 15,46 persen secara tahunan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 698,62 juta.

“Kinerja ekspor kerajinan yang terus menunjukkan tren positif harus dijaga dan ditingkatkan. Pemerintah terus mendorong IKM agar semakin terintegrasi dalam rantai pasok global melalui penguatan kualitas produk, inovasi desain, serta perluasan akses pasar,” kata Reni.

Ia menambahkan, partisipasi BPIFK pada tahun 2026 merupakan kelanjutan dari kerja sama dengan Hong Kong Trade Development Council yang telah terjalin pada tahun sebelumnya dan mendapat respons positif dari pasar internasional.

Produk kriya Indonesia pada partisipasi sebelumnya berhasil menarik perhatian sejumlah buyer potensial, termasuk dari Amerika Serikat dan Jepang, sehingga semakin memperkuat keyakinan terhadap daya saing serta peluang ekspansi produk IKM nasional di pasar global.

Pada ajang tersebut, terdapat tiga IKM terpilih yang telah melalui proses kurasi, yakni Manamu, Kampoeng Anyaman, dan Koto Batu. Ketiga pelaku usaha tersebut difasilitasi unit booth yang berada di area Cultural and Creative Avenue.

Selain itu, peserta juga mendapatkan dukungan Top-up Product Display Package untuk mengoptimalkan penataan dan daya tarik visual produk, serta fasilitas promosi melalui Default Online Package pada platform daring resmi pameran guna memperluas eksposur dan menjangkau buyer internasional secara lebih efektif.

Ketiga IKM tersebut menampilkan produk kriya dengan karakter unik masing-masing. Manamu menghadirkan kerajinan tenun tangan menggunakan kawat baja khas Sumba Timur yang dikenal sebagai lulu amah, memadukan teknik tradisional dengan pendekatan desain kontemporer.

Kampoeng Anyaman menampilkan produk anyaman daun pandan handmade yang mengedepankan kearifan lokal, kualitas pengerjaan, serta komitmen terhadap prinsip keberlanjutan lingkungan. Sementara itu, Koto Batu menghadirkan produk perhiasan berbahan natural gemstones yang menonjolkan keindahan batu mulia alami dengan sentuhan estetika modern dan nilai filosofi yang kuat.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya, Dickie Sulistya Aprilyanto menjelaskan bahwa partisipasi ini sejalan dengan penguatan ekosistem industri yang diusung BPIFK melalui konsep 3C, yakni Create, Connect, dan Catalyze.

“Partisipasi ini memperkuat ekosistem industri BPIFK melalui konsep 3C, khususnya pada aspek Connect, yaitu memperluas akses pasar ekspor dan jejaring kemitraan internasional. Kami berkomitmen untuk terus mendorong IKM binaan agar mampu naik kelas, berorientasi ekspor, dan berdaya saing di pasar dunia,” ujar Dickie.