Ekonomi Indonesia Tetap Solid, Airlangga: Asia Bisa Jadi Kekuatan Stabilitas Global

0
42
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Tokyo, Jepang) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan Indonesia mengenai dinamika ekonomi global serta semakin pentingnya penguatan kerja sama regional di Asia dalam sesi Asian Leaders Roundtable pada rangkaian Tokyo Conference 2026 yang digelar di Tokyo, Jepang.

Forum tersebut dipimpin langsung oleh mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, dengan Co-Chair mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh ekonomi dan kebijakan kawasan, di antaranya mantan Deputi Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat, mantan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, mantan Gubernur Reserve Bank of India Duvvuri Subbarao, mantan Gubernur Bank of Thailand Tarisa Watanagase, mantan Sekretaris Jenderal ASEAN Ong Keng Yong, serta mantan Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz.

Dalam diskusi tersebut, Menko Airlangga menyoroti bahwa tatanan global saat ini tengah mengalami perubahan besar. Hal ini ditandai dengan meningkatnya politik berbasis kekuatan, proteksionisme, serta menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateralisme. Kondisi tersebut terlihat dari terbatasnya kemajuan forum global seperti World Trade Organization dalam merespons isu-isu baru, termasuk perdagangan digital dan ketahanan rantai pasok global. Di saat yang sama, semakin banyak negara memilih pendekatan unilateral maupun bilateral dalam kebijakan ekonominya.

Ia juga menyinggung meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Situasi tersebut berdampak pada stabilitas ekonomi dunia, antara lain melalui lonjakan harga minyak global yang telah menembus USD100 per barel serta potensi gangguan jalur energi internasional di Selat Hormuz.

Menanggapi tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia memperkuat ketahanan energi nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto melalui percepatan pengembangan energi berbasis sumber daya domestik. Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan program biodiesel B40 dan menargetkan percepatan menuju B50. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E10 yang akan dipercepat menuju E20. Di sektor energi terbarukan, Indonesia menyiapkan pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga sekitar 800 gigawatt sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat transisi energi dan kemandirian energi nasional.

Dalam konteks global tersebut, Asia dinilai memiliki peran penting sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dunia. Kawasan Asia diproyeksikan akan menyumbang sekitar 52% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2050, sehingga penguatan kerja sama regional menjadi semakin strategis.

Menko Airlangga menegaskan bahwa Asia perlu tetap berpegang pada prinsip inklusivitas dan multilateralisme berbasis aturan. Kerja sama regional melalui berbagai kerangka seperti ASEAN, kemitraan ekonomi regional, serta forum multilateral seperti G20 dinilai penting untuk memperkuat integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas, dan menjaga stabilitas kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar.

Selain itu, Asia juga diharapkan dapat mencegah fragmentasi ekonomi global menjadi blok-blok yang saling bersaing. Sebaliknya, kawasan perlu memperkuat keterbukaan perdagangan, konektivitas ekonomi, serta kerja sama strategis yang saling melengkapi guna mendorong pertumbuhan bersama.

“Arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia harus berada di tengah panggung ekonomi global karena kinerja ekonomi yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Indonesia juga akan terus menjalankan diplomasi non-blok dalam menavigasi dinamika global tersebut,” ujar Menko Airlangga.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4% pada 2026 dengan inflasi yang tetap terkendali serta defisit fiskal yang terjaga. Selain itu, Indonesia juga berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026.

Pemerintah juga terus mendorong pendekatan Indonesia Incorporated, yakni sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing global.

Menutup paparannya, Menko Airlangga menegaskan bahwa Asia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan stabilisasi ekonomi global jika kawasan tetap berkomitmen pada keterbukaan, kerja sama regional, serta penguatan sistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia,” pungkasnya.

Dalam kegiatan Asian Leaders Roundtable tersebut, Menko Airlangga turut didampingi Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso dan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Ali Murtopo Simbolon.