BMKG Tegaskan Pentingnya Observasi Cuaca untuk Lindungi Masa Depan di Hari Meteorologi Dunia 2026

0
55
Foto: BMKG

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya pengamatan cuaca dan iklim dalam melindungi masyarakat, bertepatan dengan peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-76 yang jatuh pada 23 Maret 2026.

Mengangkat tema “Mengamati Hari Ini, Melindungi Masa Depan Indonesia”, BMKG menekankan bahwa observasi cuaca saat ini menjadi fondasi utama bagi perlindungan jangka panjang, terutama di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa setiap data yang dikumpulkan hari ini merupakan investasi penting bagi keselamatan generasi mendatang, khususnya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan tropis yang rentan terhadap bencana.

“Tema Hari Meteorologi Dunia tahun ini mengingatkan bahwa setiap data yang dikumpulkan hari ini adalah bagian dari upaya melindungi masa depan bangsa. BMKG berkomitmen memperkuat sistem observasi, memperluas jaringan, serta meningkatkan layanan agar masyarakat semakin siap menghadapi perubahan iklim,” ujar Faisal, Selasa (17/3/2026).

Ia menambahkan, meningkatnya intensitas cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dan urbanisasi membuat kebutuhan akan sistem peringatan dini semakin mendesak.

Ketua HMD 2026 BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa saat ini BMKG mengoperasikan lebih dari 180 stasiun meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta 44 radar cuaca untuk memantau dinamika atmosfer secara berkelanjutan.

“Dukungan ini memungkinkan BMKG secara rutin menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi sebagai dasar langkah kesiapsiagaan,” jelasnya.

Dalam pengolahan data, BMKG juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengolah jutaan data observasi menjadi informasi cuaca dan iklim yang akurat, mulai dari prakiraan harian hingga proyeksi jangka panjang.

Untuk memperkuat sistem global, BMKG terus menjalin kerja sama dengan World Meteorological Organization serta berbagai lembaga meteorologi internasional. Di tingkat nasional, kolaborasi dilakukan bersama kementerian, pemerintah daerah, akademisi, hingga sektor swasta.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam jaringan global seperti Global Atmosphere Watch (GAW) memastikan data nasional turut berkontribusi dalam pemantauan iklim dunia.

“Informasi cuaca dan iklim bukan hanya untuk ahli, tetapi untuk semua kalangan, mulai dari nelayan, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat umum,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa peringatan dini BMKG telah berperan penting dalam berbagai kejadian cuaca ekstrem, termasuk dalam penanganan Siklon Tropis Seroja, Siklon Tropis Senyar (2025), serta banjir besar di Kalimantan Selatan pada 2021.

Menurutnya, data observasi menjadi dasar penting dalam penetapan status darurat dan percepatan respons bantuan, termasuk dalam mendukung keselamatan sektor transportasi seperti penerbangan dan pelayaran.

Ke depan, BMKG akan terus memperkuat transformasi digital serta pemanfaatan AI guna memastikan sistem peringatan dini semakin akurat dan responsif.

“Pengamatan hingga peringatan dini adalah langkah awal untuk melindungi masa depan. Melalui data yang akurat hari ini, kita sedang membangun perisai keselamatan untuk hari esok,” pungkas Faisal.