BSN Catat Lonjakan Peringkat Global, Infrastruktur Mutu Indonesia Terbaik di ASEAN

0
71
Pelaksana Tugas Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Y. Kristianto Widiwardono, menegaskan bahwa mutu kini menjadi faktor kunci dalam persaingan global. Ia menyebutkan, produk yang tidak memenuhi standar akan kesulitan menembus pasar internasional. (Foto: BSN)

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Standardisasi Nasional (BSN) mencatat penguatan signifikan pada Infrastruktur Mutu Nasional dengan capaian peringkat ke-23 dunia dalam Global Quality Infrastructure Index (GQII) 2025. Posisi ini naik empat tingkat dibandingkan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN.

Pencapaian tersebut mencerminkan peningkatan kualitas sistem standardisasi, akreditasi, dan metrologi sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan di sektor perdagangan, baik domestik maupun internasional. Infrastruktur mutu memiliki peran penting dalam menjamin aspek keamanan, keselamatan, kesehatan, serta perlindungan lingkungan dari produk yang beredar di masyarakat.

Pelaksana Tugas Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menegaskan bahwa mutu kini menjadi faktor krusial dalam persaingan global. Produk yang tidak memenuhi standar akan sulit bersaing di pasar internasional. Ia menyebutkan bahwa di tengah arus globalisasi, mutu bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi syarat utama untuk bertahan dan meningkatkan daya saing.

Ia juga menjelaskan bahwa Infrastruktur Mutu Nasional bertumpu pada tiga pilar utama, yakni standardisasi, akreditasi, dan metrologi. Ketiganya membentuk sistem terpadu yang memastikan produk memenuhi standar mutu dan keselamatan.

Berdasarkan GQII 2025, Indonesia menunjukkan kinerja yang kuat di ketiga pilar tersebut, dengan peringkat ke-38 dunia untuk standardisasi, ke-32 untuk metrologi, dan ke-4 dunia untuk akreditasi. Bahkan, pada pilar akreditasi, Indonesia menempati posisi pertama di Asia, melampaui sejumlah negara maju.

Capaian ini mencerminkan semakin kuatnya sistem penilaian kesesuaian nasional, termasuk laboratorium pengujian, lembaga inspeksi, dan lembaga sertifikasi yang telah diakui secara internasional.

Penguatan Infrastruktur Mutu Nasional juga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK). Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang didukung sistem pengujian dan sertifikasi mampu meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk lokal.

Data BSN menunjukkan bahwa dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, sebanyak 1.099 jenis atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI. Dari jumlah tersebut, 204 produk berhasil menembus pasar ekspor.

Sepanjang 2025, sebanyak 19 UMK binaan BSN juga berhasil memasuki pasar internasional setelah mengadopsi SNI. Hal ini menunjukkan bahwa standar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan dalam negeri, tetapi juga menjadi pintu masuk ke pasar global.

Momentum peringatan 29 tahun BSN sejak berdiri pada 26 Maret 1997 menjadi refleksi atas penguatan peran lembaga tersebut dalam membangun kepercayaan terhadap produk nasional.

Ke depan, BSN menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan kementerian, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan daya saing industri, memperluas akses pasar, serta memperkuat perlindungan konsumen melalui penerapan standar yang andal.