Strategi Keberlanjutan dan Ketertelusuran Perkuat Ekspor Tuna Indonesia di AS

0
63
Paviliun Indonesia menggelar seminar bertajuk Indonesia in Dialogue A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood (Foto: Humas Kemendag)

 

(Vibizmedia – Industry) Pemerintah Indonesia terus memperkuat daya saing ekspor perikanan melalui penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan ketertelusuran (traceability). Strategi ini dibahas dalam seminar “Indonesia in Dialogue: A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood” pada ajang Seafood Expo North America 2026 di Boston, Amerika Serikat.

Seminar yang digelar oleh Kementerian Perdagangan bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C. dan mitra internasional ini menyoroti langkah Indonesia menjaga akses pasar global, khususnya Amerika Serikat.

Atase Perdagangan RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, menyampaikan bahwa keberlanjutan dan ketertelusuran kini menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekspor. Pemerintah memperkuat sistem sertifikasi, inspeksi, pengujian laboratorium, serta dokumentasi rantai pasok.

Staf Ahli Kemenko Pangan, Bara Hasibuan, menambahkan bahwa sebagai produsen tuna terbesar dunia, Indonesia harus responsif terhadap regulasi global seperti Marine Mammal Protection Act. Ia menekankan tiga fondasi utama: keberlanjutan, keamanan pangan, dan ketertelusuran untuk menjaga kepercayaan pasar.

Dari sisi industri, Andajani menjelaskan pelaku usaha kini menerapkan metode penangkapan ramah lingkungan seperti handline dan pole-and-line, sekaligus memberdayakan nelayan kecil. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan kualitas dan nilai jual produk.

Apresiasi juga datang dari Craig Turley yang menilai Indonesia telah berhasil memperkuat rantai dingin, kualitas produk, serta standar keberlanjutan. Sementara itu, Michael McNicholas menekankan pentingnya sistem ketertelusuran yang terintegrasi dan transparan untuk menarik buyer global.

Pada hari kedua pameran, Paviliun Indonesia mencatat peningkatan kunjungan buyer dan potensi transaksi. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyatakan optimisme terhadap kepercayaan pasar global.

Kinerja ekspor pun menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekspor produk perikanan Indonesia ke AS mencapai USD 1,17 miliar. Sementara Januari 2026 mencatat USD 107,32 juta, naik 14,84 persen dibanding periode sebelumnya. Produk utama meliputi udang, tuna beku, filet ikan, tilapia, dan moluska.

Data Badan Pusat Statistik mencatat total perdagangan Indonesia–AS pada 2025 mencapai USD 43,80 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 30,96 miliar.