BNPB Catat Banjir dan Karhutla Dominasi Bencana Akhir Maret 2026

0
133
Banjir
Personil BPBD Kabupaten Pemalang melakukan asesmen di lokasi terdampak banjir yang terjadi pada Kamis, 26 Maret 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana merangkum laporan kejadian bencana yang terjadi pada periode Jumat hingga Sabtu, 27–28 Maret 2026. Bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan angin kencang mendominasi wilayah Pulau Jawa, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Pulau Kalimantan.

Di Jawa Timur, banjir melanda empat desa di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yakni Desa Pagertanjung, Jatigedong, Gudungombo, dan Rejoagung, sejak Rabu (25/3). Hujan deras di wilayah hulu Sungai Marmoyo menyebabkan debit air meningkat dan meluap ke permukiman, diperparah oleh sumbatan sampah di jembatan. Sebanyak 60 rumah dan tiga akses jalan desa terdampak, dengan ketinggian air rata-rata 40 sentimeter. Kondisi genangan dilaporkan mulai menurun pada Jumat (27/3).

Masih di Jawa Timur, banjir juga melanda Kabupaten Pasuruan sejak Selasa (24/3). Sejumlah desa di Kecamatan Rejoso, Beji, dan Gempol mulai berangsur surut, meski beberapa wilayah lain masih tergenang dengan ketinggian 10–80 sentimeter. Kepala BNPB, Suharyanto, meninjau langsung lokasi pada Jumat (27/3) guna mengoordinasikan percepatan penanganan.

“BNPB akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait,” ujar Suharyanto.

Di Jawa Tengah, banjir di Kabupaten Brebes yang terjadi sejak Rabu (25/3) mulai surut. Warga yang sempat mengungsi kini kembali ke rumah untuk melakukan pembersihan. Dukungan logistik dan pengamanan jalur mudik di wilayah Ketanggungan–Pejagan masih terus dilakukan oleh BPBD bersama TNI, Polri, dan instansi terkait.

Sementara itu, di Kabupaten Pemalang, luapan Sungai Comal akibat hujan lebat pada Kamis (26/3) menyebabkan banjir di 16 desa di empat kecamatan. Sebanyak 23.154 jiwa dan 6.727 rumah terdampak dengan ketinggian air 30–80 sentimeter. Sehari berselang, genangan mulai surut menjadi 10–20 sentimeter. Selain banjir, tanah longsor juga melanda tujuh desa di Kecamatan Pulosari dan Watukumpul, berdampak pada enam kepala keluarga serta merusak infrastruktur desa.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang melanda Kecamatan Purwodadi, Karangrayung, dan Tegowanu pada Kamis (26/3). Sebanyak 150 kepala keluarga terdampak, dengan kerugian meliputi lahan pertanian seluas dua hektare dan satu fasilitas pendidikan. Sebagian wilayah telah surut, meski genangan masih tersisa di beberapa titik.

Di Kabupaten Demak, banjir terjadi di Desa Botosengon, Kecamatan Dempet, pada Jumat (27/3). Sekitar 300 warga terdampak, dengan ketinggian air mencapai 5–40 sentimeter di permukiman dan jalan.

Sementara itu, bencana hidrometeorologi kering berupa karhutla meluas di Pulau Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, karhutla terjadi di 11 kabupaten dan satu kota sejak Januari 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 357,69 hektare. Adapun di Kalimantan Barat, luas lahan terbakar mencapai 671,933 hektare yang tersebar di 12 kabupaten dan dua kota.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal pada April 2026. Sejumlah wilayah bahkan telah mengalami peralihan musim dengan kondisi cuaca yang fluktuatif.

Menyikapi hal tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, banjir, hingga gelombang tinggi selama masa transisi musim.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk mengantisipasi risiko bencana kering seperti karhutla dan kekeringan dengan tidak melakukan pembakaran lahan, memastikan api benar-benar padam saat membuang puntung rokok, serta meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiapkan tas darurat.

BNPB juga mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi resmi terkait prakiraan cuaca dan potensi bencana melalui kanal resmi BNPB, BPBD, serta BMKG guna meminimalkan risiko dan dampak bencana di masa mendatang.