MoU Rp392 Triliun, Indonesia–Jepang Perkuat Kolaborasi Masa Depan

0
122
Foto: BPMI Setpres RI

(Vibizmedia – Tokyo, Jepang) Indonesia dan Jepang telah menjalin kemitraan komprehensif selama 68 tahun di berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial budaya.

Dalam rangka memperkuat hubungan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendampingi Prabowo Subianto dalam kunjungan resmi ke Jepang yang dimulai pada Minggu (29/3/2026).

Selama kunjungan tersebut, Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan pertemuan kenegaraan dengan Naruhito serta bertemu dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.

Pada hari kedua kunjungan, Senin (30/3/2026), Presiden Prabowo bersama Menko Airlangga dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju menghadiri Forum Bisnis Indonesia–Jepang yang diselenggarakan di Imperial Hotel Tokyo.

Dalam forum tersebut, Presiden menegaskan bahwa hubungan ekonomi kedua negara yang telah terjalin selama puluhan tahun didukung kuat oleh kontribusi perusahaan-perusahaan Jepang di berbagai sektor di Indonesia. Ia menekankan komitmennya untuk tidak hanya melanjutkan kemitraan yang sudah ada, tetapi juga mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat. Menurutnya, kerja sama yang erat di berbagai bidang menjadi kunci dalam membangun perdamaian dan persahabatan yang berkelanjutan.

Forum ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai mitra strategis utama Jepang di kawasan, sekaligus membuka peluang baru bagi kerja sama ekonomi yang lebih modern, tangguh, dan berorientasi masa depan.

Secara ekonomi, hubungan kedua negara terus menunjukkan penguatan. Jepang saat ini menjadi tujuan ekspor terbesar keempat bagi Indonesia dengan nilai mencapai USD17,61 miliar. Di sisi investasi, Jepang menempati posisi kelima dengan total realisasi sebesar USD3,13 miliar, terutama di sektor industri otomotif dan alat transportasi, serta kimia dan farmasi.

Selain itu, Jepang juga berperan signifikan dalam pembangunan infrastruktur skala besar di Indonesia melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha serta bantuan pembangunan, khususnya pada sektor transportasi, pelabuhan, energi, dan infrastruktur perkotaan.

Di hadapan para pelaku usaha, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa investasi Jepang dikenal memiliki kualitas tinggi, ditopang oleh disiplin, penguasaan teknologi, serta komitmen jangka panjang. Ia juga menyampaikan apresiasi atas hubungan erat yang telah terjalin antara kedua negara.

Dalam kesempatan tersebut, turut ditandatangani 10 Nota Kesepahaman (MoU) dengan total nilai kerja sama mencapai sekitar USD23,1 miliar atau setara Rp392,7 triliun. Selain itu, pembaruan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) diharapkan semakin memperkuat fondasi kerja sama melalui peningkatan akses pasar, perluasan kolaborasi, serta modernisasi kerangka ekonomi bilateral.

Ke depan, kerja sama Indonesia dan Jepang diharapkan tidak hanya bertumpu pada sektor ekonomi tradisional, tetapi juga berkembang ke arah penciptaan solusi masa depan bersama. Hal ini dapat diwujudkan melalui tiga fokus utama, yakni transisi energi dan pertumbuhan hijau, transformasi industri dan hilirisasi, serta penguatan rantai pasok global.

Menutup rangkaian kegiatan, Menko Airlangga menegaskan bahwa pertemuan bisnis dan penandatanganan MoU tersebut merupakan langkah konkret dalam memperkuat kemitraan kedua negara. Ia menyatakan bahwa masa depan kerja sama Indonesia dan Jepang terletak pada kolaborasi, inovasi, dan pertumbuhan bersama demi menciptakan kemakmuran tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi kawasan Indo-Pasifik.