Hadapi Pasar Global, RI Siap Impor BBM dari Negara Mana Saja

0
46
Foto udara kegiatan eksplorasi minyak di anjungan lepas pantai Sepinggan Field, Daerah Operasi Bagian Selatan (DOBS) Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), Kalimantan Timur, Selasa (26/3/2024). (Foto: InfoPublik)

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang impor bahan bakar minyak (BBM) dari berbagai negara guna memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap terjaga. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap ketatnya persaingan di pasar energi global yang kian dinamis.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak akan terlalu membatasi asal negara pemasok di tengah tingginya kebutuhan dalam negeri. Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah menjaga ketersediaan BBM bagi masyarakat dan sektor industri. “Saat ini kita membuka opsi dari negara mana saja. Tidak bisa terlalu memilih, yang penting pasokan tersedia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/4/2026).

Bahlil menjelaskan, kondisi pasar energi internasional menuntut fleksibilitas tinggi. Kontrak atau tender pembelian tidak selalu menjamin pengiriman barang, terutama jika terdapat pihak lain yang berani menawarkan harga lebih tinggi di pasar global.

Karena itu, diversifikasi sumber pasokan menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran distribusi energi di dalam negeri.

Selain BBM, pemerintah juga melakukan penyesuaian pada sumber impor LPG dan minyak mentah. Untuk LPG, sebagian pasokan mulai dialihkan dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dan Australia. Sementara itu, untuk minyak mentah, Indonesia mulai menjajaki negara-negara di Afrika seperti Angola dan Nigeria sebagai alternatif pemasok.

Strategi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas distribusi energi nasional di tengah kompetisi pembelian antarnegara.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang guna mengurangi ketergantungan pada impor, salah satunya melalui implementasi program Biodiesel 50 persen (B50).

Setelah melalui uji coba selama hampir enam bulan pada berbagai moda transportasi dan alat berat, program tersebut dijadwalkan mulai diterapkan secara resmi pada pertengahan tahun ini. “Per 1 Juli akan mulai diimplementasikan B50,” tegas Bahlil.