Pemerintah dan Industri Bersinergi Kembangkan Sektor Perhiasan Emas

0
41
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Jakarta) Di tengah ketidakpastian ekonomi global—mulai dari fluktuasi harga emas hingga ketegangan geopolitik yang memengaruhi perdagangan internasional—pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem emas nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.

Industri perhiasan emas Indonesia memegang peran penting dalam ekosistem tersebut. Selain berorientasi ekspor dengan desain yang telah diakui di pasar global, sektor ini juga bersifat padat karya dan menyerap banyak tenaga kerja, terutama generasi muda yang bergerak di bidang desain dan produksi. Keunggulan lainnya terletak pada perpaduan antara teknologi manufaktur modern—seperti otomasi dan desain digital—dengan keterampilan kerajinan tangan yang menuntut ketelitian serta kreativitas tinggi, sehingga menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.

Dalam rangka memperkuat sektor ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan kunjungan ke PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) pada Selasa (31/03). Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat langsung kondisi industri perhiasan sekaligus membahas arah kebijakan penguatan ke depan.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN, Ferry Irawan, turut meninjau proses produksi di UBS. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kesinambungan rantai pasok emas nasional, dari hulu hingga hilir, termasuk integrasinya dengan kegiatan usaha bullion.

Sementara itu, Direktur PT UBS sekaligus Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI), Eddy Yahya, menyampaikan apresiasi atas berbagai kebijakan pemerintah, termasuk penerapan bea keluar emas yang dinilai mendukung penguatan industri dalam negeri. Di sisi lain, APPI juga memberikan sejumlah masukan strategis, khususnya terkait penyempurnaan kebijakan perpajakan dan penguatan struktur pasar emas domestik. Pemerintah menyambut masukan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem perpajakan yang lebih efisien, mendukung iklim usaha, serta meningkatkan daya saing industri secara berkelanjutan.

Deputi Ferry juga menyoroti dampak dinamika geopolitik global terhadap kinerja perdagangan industri perhiasan. Salah satu dampaknya adalah terhambatnya ekspor ke Dubai yang merupakan salah satu pasar utama. Meski demikian, pelaku industri tetap optimistis terhadap prospek permintaan dalam jangka menengah.

Eddy Yahya menambahkan bahwa budaya menabung dan berinvestasi emas di Indonesia sudah cukup kuat, mirip dengan kondisi di India. Hal ini menjadi dasar optimisme bahwa permintaan akan kembali meningkat seiring membaiknya kondisi pasar. Ia juga menekankan pentingnya penguatan sisi pasokan dalam negeri melalui pengembangan usaha bullion guna memastikan ketersediaan bahan baku yang lebih efisien dan kompetitif.

Sejalan dengan itu, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi. Konsolidasi dari hulu hingga hilir akan terus dilakukan agar daya saing industri emas Indonesia semakin meningkat.

Melalui kunjungan ini, pemerintah berharap dapat mempererat sinergi dengan pelaku industri dalam merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif, mencakup aspek perpajakan, penguatan rantai pasok, hingga integrasi dengan usaha bullion. Dengan demikian, industri perhiasan nasional diharapkan dapat tumbuh lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.