Hadapi Krisis Energi Global, Prabowo: Indonesia Siap dan Akan Semakin Kuat dalam 12 Bulan

0
40
Rapat Kerja Pemerintah
Presiden Prabowo Subianto menggelar Rapat Kerja Pemerintah bersama anggota Kabinet Merah Putih, seluruh pejabat Eselon I kementerian/lembaga, serta Direktur Utama BUMN di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 8 April 2026. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Prabowo Subianto menegaskan optimisme pemerintah dalam menghadapi krisis energi global saat memberikan taklimat pada Rapat Kerja Pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026). Di tengah ketidakpastian global, Presiden memastikan Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas nasional dan mengendalikan arah pembangunan.

“Kita dapat mengendalikan arah perkembangan bangsa. Dalam satu setengah tahun ini kita telah membuktikan bahwa pemerintah efektif, andal, dan mampu menjalankan tugas bernegara dengan baik,” ujar Presiden.

Dalam arahannya, Prabowo mengingatkan bahwa dunia sejak lama telah diproyeksikan menghadapi tiga krisis utama, yakni pangan, energi, dan air, sebagaimana tertuang dalam agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui program Sustainable Development Goals.

Ia juga menyoroti konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dunia. Meski demikian, Presiden menegaskan posisi Indonesia relatif aman berdasarkan data dan laporan terkini dari para menteri.

“Ada tantangan, ada kesulitan, tetapi kita mampu menghadapi dan mengatasinya,” tegasnya.

Untuk jangka pendek, pemerintah telah menyiapkan langkah strategis menjaga stabilitas energi, terutama dalam periode krusial 12 bulan ke depan. Presiden optimistis setelah fase tersebut, posisi Indonesia akan semakin kuat.

“Intinya sekarang kita siap, kita kuat menghadapi satu tahun ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, pemerintah memastikan perlindungan terhadap masyarakat kecil tetap menjadi prioritas melalui kebijakan subsidi energi yang tepat sasaran. Subsidi bahan bakar akan dipertahankan bagi mayoritas rakyat, sementara kelompok mampu diarahkan untuk membayar sesuai harga pasar.

Lebih lanjut, Presiden menekankan percepatan transformasi menuju kemandirian energi nasional berbasis sumber daya domestik dan energi terbarukan. Ia menilai krisis global justru menjadi momentum untuk melakukan reformasi struktural secara lebih cepat dan efisien.

“Krisis adalah peluang. Kita harus bekerja lebih efisien, tidak boleh boros, tidak boleh ada kebocoran, dan tidak boleh ada korupsi,” tegas Presiden.

Penegasan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memperkokoh ketahanan energi nasional sekaligus memastikan kebijakan yang diambil berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.